Kisah Miris Nenek Sebatang Kara Tinggal di Gubuk Tepi Hutan Cikalongwetan KBB
“Kami diskusi dulu. Izin dulu boleh enggak pindah ke bawah. Nanti saya bantu semua biayanya. Kalau emak mau punya piaraan saya kasih ternaknya,” kata Dedi.
Untuk sementara sang nenek dievakuasi ke rumah warga yang selama ini memberikan makan. Di sana ia akan diobati dan dirawat oleh warga tersebut.
Saat melakukan evakuasi pun cukup sulit. Selain kontur jalan yang menurun, sempit dan licin, kondisi nenek tersebut pun sedang dalam kondisi sakit kaki sehingga harus terus dibimbing juga dituntun oleh Dedi.
Sesampainya di bawah dan diantar ke rumah warga, wajah Tati yang semula sedih berubah menjadi bahagia. Bahkan ia terharu karena bisa ‘diselamatkan’ untuk menata kembali hidupnya.
Jika telah sembuh, Dedi minta warga tersebut memberikan kabar dan menanyakan dua tawaran darinya. Apakah akan tetap tinggal di sana atau ikut bekerja bersama Dedi.
“Teteh ini tuh penuh tenggang rasa, punya sifat saling mencintai. Si teteh walau hidupnya tidak terlalu baik rezekinya tapi masih mengurusi si emak. Ibu orang lain saja diurusin apalagi ibu sendiri. Banyak orang lain tidak mengurusi ibu sendiri, tapi warisan diambil, ibunya ditinggalkan. Ini bagus, contoh tauladan,” ujar Kang Dedi.
Sebelum pergi, Dedi pun menitipkan sejumlah uang pada sang nenek dan warga yang mengurusnya. Uang tersebut digunakan untuk pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Editor: Agus Warsudi