Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pascamenerima Vaksin Dosis Kedua, Guru di Sukabumi Lumpuh dan Alami Gejala Kebutaan
Advertisement . Scroll to see content

KIPI Jabar Pastikan Guru di Sukabumi Lumpuh Bukan karena Vaksin Covid-19

Senin, 03 Mei 2021 - 22:51:00 WIB
KIPI Jabar Pastikan Guru di Sukabumi Lumpuh Bukan karena Vaksin Covid-19
Ketua Komda KIPI Jabar Dr Prof Kusnandi Rusmil. (Foto: Agung Bakti Sarasa)
Advertisement . Scroll to see content

Kusnadi mengatakan, SA sudah terinfeksi virus penyebab GBS dua minggu sebelum vaksin tanpa gejala apapun, sehingga tidak terdeteksi saat skrining sebelum penyuntikan vaksin. Buramnya penglihatan dan juga lemahnya anggota gerak, kata Kusnandi, secara kebetulan terjadi usai SA mendapatkan vaksin. 

Menurut dia, mendapatkan imunisasi atau tidak, dampak terinfeksi virus penyebab GBS akan terjadi seperti yang dialami SA, yaitu buramnya penglihatan dan lemahnya anggota gerak.

"Kalau ada reaksi vaksin yang berat itu dari 1 juta orang yang divaksinasi hanya satu orang yang mengalami, tapi itu masih bisa disokong yang lainnya dan terlindungi. Namun, efek samping tersebut sangat kecil dibanding dengan manfaat yang akan dirasakan dengan diimunisasi, yaitu lebih banyak keuntungannya," katanya.

Sementara itu, spesialisasi syaraf, Dewi Hawani mengatakan, GBS disebabkan oleh virus atau bakteri pada proses imunologis yang terjadi 2-4 minggu sebelum terjadinya gejala. GBS merupakan penyakit autoimun. 

Awalnya, kata dia infeksi virus atau bakteri yang menyerang tubuh seseorang, namun virus bakteri ini tidak langsung merusak syaraf tapi ternyata proses autoimun. 

"Sel saraf motorik dan mata pada pasien selnya itu berubah jadi sel bakteri sehingga dikenali oleh sistem imun kita sebagai zat yang harus dimusnahkan maka gejala sistem imun sendiri yang menyerang sel syaraf akibat terinfeksi oleh virus atau bakteri sehingga bukan infeksi langsung tapi akibat proses imunologi yang salah. Memang  yang paling sering kelumpuhan tungkai tangan dan yang berat itu kalau ke otot pernafasan," kata Dewi.

Pokja KIPI Kabupaten Sukabumi dr Eni mengatakan, SA saat ini kondisinya mulai membaik dan bukan mustahil untuk bisa disembukan. Gerak tangan SA sudah menunjukan perbaikan, bahkan sudah bisa memijat. Namun, untuk kaki belum maksimal. SA masih harus menjalani fisioterapi untuk mengembalikan fungsi motoriknya.

"Untuk fisioterapi sendiri kami akan memfasilitasi di RS Pelabuhan Ratu. Di sana sudah siap dan ada fasilitasnya. Di sana ada spesialis syaraf, mata, fisioterapi, sedangkan rehabilitasi medik ada di Sekarwangi. Proses ini akan membantu penyembuhan SA. Saya laporkan juga di sana untuk obat-obatan SA sudah ada, semoga mempercepat penyembuhan SA," kata Eni.

Pihaknya juga akan kordinasi dengan puskesmas untuk dibantu bantu sistem rujukan selanjutnya. Selain itu SA akan selalu dipantau dan diterapi oleh tim RS Pelabuhan Ratu.

Editor: Agus Warsudi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut