Keuntungan Menikah dengan Orang Sunda, Ramah dan Pengertian
Setelah lukisan selesai, Sungging Prabangkara kembali ke Majapahit dan menunjukkannya ke Hayamwuruk. Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Hayamwuruk berniat menikahi Dyah Pitaloka. Tetapi, Mahapatih Gajahmada menentang rencana itu hingga terjadilah Perang Bubat. Raja Sunda, prajurit, dan putri Dyah Pitaloka Citraresmi pun tumpas di Bubat.
Kecantikan mojang Sunda pun terkenal di masa penjajahan Belanda. Dalam satu iklan masa kolonial menulis kalimat unik yang berbunyi, "Jangan ke Bandung jika tidak bersama istri". Iklan ini menyiratkan, para yang telah beristri dikhawatirkan akan tergoda oleh kecantikan dan kemolekan mojang Sunda saat berkunjung ke Bandung tanpa ditemani istri.
Sebutan Bandung Kota Kembang, merupakan ungkapan orang-orang Belanda betapa banyak gadis cantik di kota ini. Saat itu, para tuan tanah, pengusaha perkebunan menggelar konferensi. Mereka tidak banyak kesulitan dalam menyediakan gadis-gadis cantik untuk menemani para pengusaha perkebunan dari berbagai daerah di Hindia Belanda yang kumpul di Bandung kala itu.
Karena berkonotasi negatif, orang Bandung akan menghindari menggunakan istilah kota kembang ini. Mereka lebih senang menggunakan sebutan Parijs van Java bagi Kota Bandung
Orang Sunda terkenal dengan tutur kata yang halus dan lembut. Apalagi jika mereka menggunakan bahasa Sunda lemes. Intonasi dan cara menuturkannya sangat lembut, sangat enak didengar dan diterima telinga. Mereka menggunakan bahasa halus kepada orang yang baru dikenal sebagai bentuk penghormatan.