“Web FORMS saat ini sudah dapat diakses berbagai pihak,” katanya Amri pada Sabtu (21/9/2019).
Armi mengatakan, aplikasi ini berisi dua sistem yang sampai saat ini masih terud dikembangkan. Pertama, daerah yang terpapar. Dari sistem ini, akan diketahui berapa luasan daerah terbakar dan juga berapa jumlah orang, rumah atau bangunan yang akan terpapar.
Sistem yang kedua yang juga masih dikembangkan yakni bagaimana supaya bisa mengitung luasan yang terpapar tadi, khususnya terkait jumlah pohon yang akan terbakar. Harapannya, dapat memberikan informasi berapa karbon yang telah terbakar.
Aplikasi ini rencanya akan dikembangkan dalam bentuk apps baik di android atau IOS. Ke depan, FORMS juga akan digabugkan dengan kepemilikan lahan. “Ini penting, supaya kita tahu siapa melakukan apa,” katanya lagi.
Namun bagian ini tidak dapat diakses sembarang pihak. Jadi nanti akan terlihat titik api sekecil apapun, berada di lahan siapa, dimana lokasinya dan kapan mulai muncul.
Saat ini sebagian dari fitur-fitur di aplikasi ini sudah bisa digunakan dan diakses oleh masyarakat terutama tingkat polutannya.
“Saya berharap informasi dari FORMS ini bisa digunakan oleh pemerintah dan lembaga terkait untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Editor: Umaya Khusniah