Gara-Gara Spanduk Provokatif, Kawasan Prapatan Mambo Majalengka Jadi Buah Bibir
Tidak ada sumber pasti terkait penamaan Mambo. Namun, jelas dia, nama Mambo mungkin diambil dari jenis dagangan yang ada saat itu. Mambo, kata Naro, digunakan untuk menunjukkan jenis yang beraneka ragam.
"Dikenal juga ada es Mambo, karena warnanya banyak pilihan, beragam. Nah, di sana dulu sudah banyak pedagang, ada kopi, kacang rebus, dan tutut. Kalau toko, ada yang jual sembako. Dari beragamnya jenis itu, akhirnya masyarakat nyebut nama itu Mambo. Mungkin ya," jelas Naro.
Terkait luasan daerah yang disebut Mambo, tambah Naro, hanya sekitar 50 meter, atau dari lampu merah perempatan Jalan KH Abdul Halim sampai Perempatan Jalan A Yani. Era sekarang, daerah itu masuk ke kelurahan Majalengka Wetan.
"Jadi Mambo itu bukan nama blok atau kompleks. Tapi emang dari dulu sudah ramai aktivitas perdagangan," jelas dia.
Sebagai pusat masyarakat setempat berbelanja, tidak jauh dari Mambo juga terdapat bioskop. Namun, kini bioskop itu berubah fungsi jadi toko.