Berbeda dari Mayoritas Masyarakat Dunia, Perempuan di Negara Ini Bakal Boleh Poliandri
Menurut Musa, dalam hal pernikahan, laki-laki dan perempuan tak bisa disamakan. Perempuan bisa saja melakukan pekerjaan yang dilakukan laki-laki dalam bidang lain, namun tidak dengan pernikahan.
Musa tak peduli disebut munafik terkait pendiriannya karena sudah memiliki empat istri. "Saya disebut munafik karena pernikahan, tapi sekarang saya lebih suka berbicara ketimbang diam," ujarnya.
Ketua Partai Demokrat Kristen Afrika Pendeta Kenneth Meshoe juga mengecam usulan itu dengan menyebutnya bisa menghancurkan masyarakat. "Akan tiba saatnya ketika seorang laki-laki berkata, 'Anda menghabiskan sebagian besar waktu dengan pria itu dan bukan dengan saya' dan akan ada konflik antara kedua suami itu," kata Kenneth Meshoe.
Seorang profesor peneliti poliandri Collis Machoko, mengatakan, bentuk perlawanan atas propusal reformasi UU sudah diluar kontrol. "Masyarakat Afrika belum siap untuk melakukan kesetaraan sejati," kata Collis.
Dalam penelitiannya di Zimbabwe terhadap 20 perempuan yang berpoliandri serta 45 suami, kehidupan mereka tergolong wajar meskipun ilegal secara hukum. Perempuan biasanya yang memulai mengutarakan niat untuk poliandri kepada laki-laki pilihan.
Dalam beberapa kasus, para pria memberikan mahar, sementara yang lainnya berkontribusi memberikan nafkah. Alasan pria rela istrinya menikah lagi adalah cinta, di samping tak bisa memuaskan istri secara seksual atau masalah kesuburan.
Editor: Agus Warsudi