Atasi Ancaman Gangguan Produksi Listrik Jawa-Bali, Sampah di Saguling Dibersihkan
Menurut Lukman Nulhakim, aktivitas pembangkit listrik di PLTA Saguling butuh daya dukung lingkungan yang lestari dan bersih agar menghasilkan produksi listrik maksimal. Untuk itu perlu dilakukan pembersihan sampah secara berkala, sebab sampah dan limbah bisa memengaruhi kualitas air, sedimentasi, dan ancaman bencana alam lainnya.
Sampah yang berhasil diangkut dalam kegiatan ini mencapai lebih dari setengah ton atau sebanyak 588,71 kg, terdiri dari sampah organik 341,7 kg dan anorganik 247,1 kg. Sampah itu akan diolah di Biomass Operating System Saguling menjadi briket. Sehingga bermanfaat bagi PLTU untuk bahan bakar dan bisa berkontribusi dalam mereduksi CO2.
"Kami olah sampah jadi produk yang bermanfaat untuk bahan bakar PLTU. Sedangkan lahan di bantaran sungai yang dibersihkan akan menjadi Hutan Tanaman Energi (HTE) dengan ditanami pohon energi seperti gamal, lamtoro, dan kaliandra," ujarnya.
Danramil Cililin Kapten Inf Handri Gunawan mengatakan pembersihan sampah di aliran Sungai Citarum yang mengalir ke Saguling harus secara berkala dilakukan. Sebab tidak menutup kemungkinan masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai.
"Perlu ada edukasi dan contoh langsung agar masyarakat tidak buang sampah ke sungai. Kemudian, masih banyak lahan tidur di bantaran sungai yang harus dimanfaatkan supaya tidak dipenuhi sampah," kata Danramil Cililin.
Pegiat lingkungan dari Gema Jabar Hejo Asep Ismail mendorong stakeholder terkait melakukan edukasi pengelolaan sampah yang bisa bernilai ekonomi. "Saya rasa kalau ada nilai manfaat secara ekonomi masyarakat pasti tergerak untuk mengurangi sampah di sini, tapi kalau hanya sekadar bersih-bersih saja akan sulit," kata Asep Ismail.
Editor: Agus Warsudi