Dia menjelaskan, simposium tahun ini lebih menekankan akan pentingnya peran psikologi dalam menyiapkan dan meningkatkan kondisi kesehatan mental prajurit dan keluarganya. Terutama dalam menghadapi tuntutan penugasan yang sangat kompleks dan penuh dengan tekanan.
Selain itu lanjut Eri, dalam simposium yang dibuka Menteri Pertahanan Bosnia dan Herzegovina Marina Pendes dan Ketua Misi IOM Peter Van der Auweraert, juga dibahas empat topik besar. Yakni kepemimpinan, pengukuran individu dan organisasi, resiliensi dan operasional stress, serta dukungan bagi keluarga militer dan veteran.
“Pada momen ini, TNI AD diberikan kesempatan untuk memaparkan tentang validitas hasil uji coba alat ukur psikologi. Tampil sebagai pemapar yakni Kapten Didon Permadi (Perwira Staf Dispsiad) dengan judul penggunaan alat ukur kepribadian Millon versi Indonesia untuk seleksi personil TNI-AD,” katanya.
Berdasarkan paparan disimpulkan, alat ukur yang telah diadaptasi ke dalam versi Indonesia cukup valid dan dapat diterapkan sebagai pendeteksi perilaku dalam penugasan yang kompleks dan penuh tekanan.
Eri mengungkapkan, dengan keikutsertaan TNI AD pada simposium ini dapat disimpulkan pemilihan personel militer merupakan hal yang esensial dan akan menunjang efektivitas kinerja.