Peningkatan intrusi magmatik kemungkinan mulai terjadi sejak 20 Desember 2021 yang diindikasikan dengan terekamnya gempa Vulkanik Dalam dan Vulkanik Dangkal dalam jumlah yang cukup signifikan.
Antisipasi Tsunami akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penjaga Pantai Rutin Pantau Laut
Hal ini seiring dengan energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai RSAM (real-time seismic amplitude measurement) serta pola ungkitan dari pengukuran tiltmeter yang menunjukkan pola fluktuasi dengan kecenderungan relatif meningkat pada periode Januari-Februari 2022. Ini disebabkan perubahan tekanan di permukaan yang berasosiasi dengan pergerakan fluida magma ke permukaan.
Data pemantauan secara visual dan instrumental, ujar Andiani, mengindikasikan bahwa Gunung Anak Krakatau masih berpotensi erupsi. Potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini dapat berupa lontaran lava pijar, material piroklastik maupun aliran lava.
Gunung Anak Krakatau 3 Kali Erupsi Muntahkan Abu Vulkanik 1 Km, Warga Dengar Suara Dentuman
"Hujan abu lebat secara umum berpotensi di sekitar kawah di dalam radius 2 km dari kawah aktif. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat menjangkau area yang lebih luas bergantung pada arah dan kecepatan angin," ujarnya.
Saat ini, tutur Andiani, tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau ditetapkan pada Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 2 km dari kawah aktif Gunung Api Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Ketinggian Kolom Abu hingga 357 Mdpl
Masyarakat agar mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Serta tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas Gunung Api Anak Krakatau.
Editor: Agus Warsudi