5 Fakta Jasad Guru Ngaji di Subang yang Dimakamkan 17 Tahun Lalu Masih Utuh
Keluarga ahli waris dan warga kemudian menggelar pertemuan. Akhirnya, disepakati makam guru ngaji tersebut dipindahkan ke Tempat Permakaman Umum (TPU) Pasirnaan tak jauh dari lokasi makam awal.
3. Prosesi pemindahan makam almarhum Muhya bin Rudia dihadiri oleh keluarga ahli waris dan warga. Saat prosesi berlangsung, warga melantunkan sholawat dan doa. Ketika jasad almarhum diangkat dari dalam liang lahat, warga mengucapkan tabkir, Allahuakbar. Selanjutnya, warga membungkus kembali jasad dengan kain kafan yang masih baru, putih dan bersih.
Dalam video terlihat jasad almarhum yang terbungkus kain kafan masih utuh. Namun kain kafan terlihat kotor oleh tanah. Ace Kosasih, warga yang bertugas menggali makam dan mengangkat almarhum, melihat langsung kondisi jasad almarhum masih utuh.
Hal itu terlihat dari kulit yang masih ada dan tulang pun menyatu. Kondisi kulit almarhum memang sudah mengering, seperti makhluk hidup yang diawetkan dengan air keras. Jasadnya tidak busuk, melainkan beraroma harum.
Berdasarkan pengalaman Ace Kosasih, jasad yang telah dimakamkan selama 17 tahun biasanya hanya tinggal tulang belulang, tidak utuh lagi. Berbeda dengan jasad almarhum Muhya.