18 Tahun Tragedi TPA Leuwigajah, Masyarakat Adat Cireundeu Gelar Ritual Tabur Bunga
Filosofinya adalah ketika sudah membuang kotoran (sampah) lalu dilakukan penimbunan dengan pasir atau tanah. Namun sampah hanya dibuang dan dibiarkan, sehingga menyebabkan longsor gunungan sampah.
"Sekarang ini tidak perlu mencari siapa yang salah karena peristiwa mengerikan itu sudah terjadi. Tinggal bagaimana ke depan jangan terjadi lagi di daerah lain," ujar dia.
Setelah 18 tahun berlalu, tutur Abah Widi, eks TPA Leuwigajah sudah menjadi lahan hijau yang bermanfaat bagi warga sekitar karena dijadikan lahan pertanian seperti ditanam singkong dan yang lainnya.
Masyarakat adat Cireundeu akan mendukung langkah pemerintah dalam mengelola lahan eks TPA Leuwigajah, asalkan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Warga di Cireundeu ini punya filosofi cerita 'manut ke ratu raja rarangeuyan'. Kami akan manut (mengikuti kebijakan) pemerintah asalkan konsepnya menguntungkan bagi masyarakat," tutur Abah Widi.
Seperti diketahui, tragedi memilukan longsor sampah di TPA Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, terjadi pada 21 Februari 2005 sekitar pukul 02.00 WIB.
Longsor gunungan sampah setinggi 60 meter dan panjang 200 meter itu telah menewaskan sebanyak 157 orang. Korban tewas kebanyakan sedang tidur saat kejadian.
Editor: Agus Warsudi