UEA-Indonesia Bangun Pusat Penelitian Mangrove MBZ-Jokowi di Bali
“Mengingat penurunan signifikan hutan mangrove di dunia, UEA menyadari kehilangan lebih banyak hutan mangrove akan menyebabkan dampak perubahan iklim menjadi lebih parah. Seperti terjadinya lebih banyak banjir dan badai serta ancaman kepada masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir," katanya.
"Lembaga ini akan berupaya mencari solusi untuk menghentikan kerugian akibat hilangnya kekayaan lingkungan ini, lalu berupaya mengembangkannya kembali di dunia, sebagai bentuk kontribusi dalam menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat dunia," ucapnya lagi.
Menteri Amna mengatakan, Pusat Penelitian Internasional Mangrove MBZ-Jokowi merupakan tambahan penting bagi upaya global dalam rangka meningkatkan penyebaran hutan mangrove, terutama Mangrove Alliance for Climate yang diluncurkan oleh UEA bekerja sama dengan Republik Indonesia dan 41 negara di seluruh dunia. Selain juga Mangrove Development Initiative yang merupakan upaya kolaboratif antara Global Mangrove Alliance dan para pemimpin urusan iklim di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pusat Penelitian Internasional Mangrove MBZ-Jokowi akan dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare dengan berbagai infrastruktur pendukung, antara lain jalan, listrik dan air. Lembaga ini akan berada di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai di provinsi Bali, sebuah taman yang terbentang di lahan seluas 1.158,44 hektare yang merupakan ekosistem mangrove dan terletak di sekitar Teluk Benoa.
Lembaga ini bertujuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam upaya mengembangkan pohon mangrove, meningkatkan perannya sebagai penyimpan karbon alami, menghadapi perubahan iklim, dan meningkatkan lingkungan alami di kawasan pesisir, dan mengembangkan keanekaragaman hayati. Selain itu, lembaga ini juga akan berupaya meningkatkan pertukaran pengetahuan di bidang pengembangan pohon mangrove dengan berbagai negara untuk mengkompensasi hilangnya jenis pohon yang penting ini bagi ekosistem lingkungan.