Kemarau Meluas, Bali dan Nusa Tenggara Alami Hari Tanpa Hujan
BMKG juga mencatat pada periode 11–14 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Sumatra Barat, Papua, Riau, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Barat.
Kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin yang masih aktif, serta adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah perairan Indonesia.
BMKG memprediksi jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau akan terus meningkat pada Dasarian III Juni 2026. Bali dan Nusa Tenggara termasuk wilayah yang perlu mewaspadai dampak kekeringan meteorologis akibat minimnya curah hujan.
Kondisi ini turut dipengaruhi fenomena ENSO yang menunjukkan kecenderungan fase hangat moderat dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan SOI -24,3.
“Meski demikian, hujan masih tetap berpeluang terjadi karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah,” tulis BMKG.
BMKG menyebut dinamika atmosfer seperti gelombang Kelvin, Rossby, hingga sirkulasi siklonik masih dapat memicu hujan di sejumlah wilayah, meskipun musim kemarau mulai mendominasi. Masyarakat di Bali dan Nusa Tenggara diimbau tetap waspada terhadap dampak kekeringan serta potensi perubahan cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi secara lokal.
Editor: Donald Karouw