“Kemudian dari host-nya atau manusianya, bagaimana sirkulasinya, bagaimana siklus hidupnya dari penjamu host-nya ini ketika terjadi infeksi pada seseorang. Dan yang berkaitan dengan hal ini adalah faktor risiko lingkungan. Karena banyak sekali tadah hujan di daerah kita,” ujarnya.
3 Fasilitas Publik di Denpasar Ditutup akibat Lonjakan Kasus Covid-19
Didik mengatakan populasi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD ini meningkat pada saat musim hujan. Hal itu perlu menjadi perhatian masyarakat agar membersihkan lingkungannya
“Siklus hidup DBD terjadi karena hujan. Jadi ketika musim penghujan maka terjadi kasus yang tinggi namun ketika kemarau ini malah populasi nyamuknya rendah. Tapi begitu hujan lagi populasinya naik lagi. Nah ini karena lingkungan kita berpotensi untuk bisa menjadi sarang untuk bertelur menjadi jentik-jentik nyamuk," katanya.
Menurutnya upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini terutama dengan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus. Upaya pemberantsan dinilai bisa optimal apalagi banyak masyarakat yang mulai bekerja dari rumah karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
“Upaya-upaya untuk bisa mengendalikan ketika terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan. Ini yang perlu diantisipasi dengan kegiatan-kegiatan PSN dan 3M Plus, ini yang bisa kita lakukan,” ucap Didik.