Berbekal restu ibunya, Dempu Awang pun berangkat menuju kota pelabuhan. Selama merantau, Dempu Awang tak pernah pulang ke rumah menjenguk ibunya. Setelah 10 tahun berlalu, Dempu Awang rupanya telah menjadi orang kaya dan mempunyai istri cantik.
Dempu Awang tak lupa dengan ibunya yang tinggal seorang diri. Dia pun mengajak serta istrinya untuk pergi menjenguk ibunya.Berangkatlah mereka berlayar dengan kapal besar yang megah dan indah menuju Mentok, tempat kelahirannya.
Niat Dempu Awang menjenguk ibunya pun akhirnya kesampaian. Namun, begitu melihat kondisi ibunya dengan pakaian compang-camping, hati Dempu Awang bukannya merasa iba. Dia malah berubah pikiran dan bertanya-tanya dalam hatinya benarkah itu ibu yang melahirkan dan membesarkannya.
Dempu Awang juga tidak mencium tangan bahkan menyapa ibunya. Melihat gelagat anaknya yang tidak wajar, Ibu Dempu Awang mencoba mendekati anaknya yang masih membisu.
“Dempu Awang, lupakah kau akan ibumu ini? Mendekatlah Nak, ibu ingin lihat tanda di keningmu. Goresan saat kau terjatuh saat kecil dulu masih membekas. Itu benar tanda kau anakku,” kata ibu Dempu Awang.