Pahlawan Nasional dari Aceh, Pejuang Tangguh Mampu Bakar Semangat Pasukan
Setelah Cik Tunong dijatuhkan hukuman tembak mati oleh Belanda, Cut Meutia tetap melanjutkan perjuangan bersama Pang Nanggroe hingga 25 September 1910.
Setelah wafatnya Pang Nanggroe pun, Cut Meutia tetap melakukan perlawanan bersenjata. Cut Meutia akhirnya gugur di medan perang pada 24 Oktober 1910 ketika berusia 40 tahun. Cut Meutia kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada 2 Mei 1964.
Teuku Nyak Arif merupakan anak dari seorang Ulee Balang Panglima Sagi XXVI mukim. Ia lahir pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee Lheue 5 km dari Banda Aceh. Teuku Nyak Arif telah dikenal sebagai sosok yang pandai ketika masa kecilnya. Menginjak masa remaja rasa nasionalismenya kian meninggi.
Pada 16 Mei 1927 Teuku Nyak Arif diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad), di samping tetap menjabat sebagai Panglima Sagi XXVI mukim.
Hal ini kemudian digunakan oleh Teuku Nyak Arif untuk mengkritik pemerintah Belanda. Hal yang sama pun dilakukannya ketika Jepang mulai memasuki Indonesia. Sikap berani yang ditunjukkan oleh Teuku Nyak Arif membuat sosoknya menjadi tokoh yang diperhatikan oleh Jepang.