Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sosok Elon Musk, Triliuner Pertama di Dunia Berkat IPO SpaceX
Advertisement . Scroll to see content

Tesla Klaim Mobil Full Self-Driving 10 Kali Lebih Aman dari Manusia, Senator AS Minta Bukti

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:04:00 WIB
Tesla Klaim Mobil Full Self-Driving 10 Kali Lebih Aman dari Manusia, Senator AS Minta Bukti
Klaim Tesla teknologi Full Self-Driving (FSD) 10 kali lebih aman dibandingkan pengemudi manusia menjadi sorotan serius di Amerika Serikat (AS). (Foto: Tesla)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Klaim Tesla teknologi Full Self-Driving (FSD) 10 kali lebih aman dibandingkan pengemudi manusia menjadi sorotan serius di Amerika Serikat (AS). Dua senator dari Partai Demokrat mendesak regulator keselamatan jalan raya AS meneliti lebih jauh dasar perhitungan yang digunakan perusahaan milik Elon Musk tersebut.

Dilansir dari Carscoops, selama beberapa tahun terakhir, Tesla secara konsisten mempromosikan FSD sebagai teknologi yang mampu mengurangi risiko kecelakaan secara signifikan. Namun, sebuah investigasi yang diterbitkan Reuters mengungkap dugaan perusahaan menggunakan metode perbandingan yang dinilai tidak seimbang untuk mendukung klaim keselamatan tersebut.

Menurut laporan tersebut, Tesla menghitung tingkat kecelakaan kendaraan yang menggunakan FSD hanya pada insiden berat yang menyebabkan airbag mengembang. Angka itu kemudian dibandingkan dengan total kecelakaan kendaraan di Amerika Serikat, termasuk tabrakan ringan yang tidak memicu pengembangan airbag.

Metode tersebut dinilai menciptakan perbandingan yang tidak setara. Akibatnya, hasil yang muncul dapat memberikan gambaran bahwa FSD jauh lebih aman dibandingkan kondisi sebenarnya.

Tak hanya itu, Reuters juga menyoroti perbandingan yang dilakukan Tesla terhadap rata-rata kendaraan di AS. Mayoritas armada kendaraan di negara tersebut berusia lebih tua dibandingkan mobil Tesla yang umumnya dibekali teknologi keselamatan terbaru.

Kendaraan modern memiliki fitur keselamatan yang lebih canggih sehingga secara alami mampu menekan risiko kecelakaan. Sebab itu, sejumlah pihak menilai perbandingan Tesla dengan rata-rata kendaraan nasional tidak sepenuhnya mencerminkan efektivitas FSD.

Sorotan terhadap klaim Tesla semakin menguat setelah Senator Edward Markey dari Massachusetts dan Senator Richard Blumenthal dari Connecticut mengirim surat resmi kepada Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA).

Dalam surat tersebut, keduanya meminta penjelasan apakah NHTSA pernah mengevaluasi klaim keselamatan FSD yang disampaikan Tesla? Mereka juga mempertanyakan apakah regulator telah meminta data kecelakaan yang menjadi dasar perusahaan dalam menyatakan sistem tersebut jauh lebih aman daripada pengemudi manusia.

Selain meminta klarifikasi, kedua senator mendesak NHTSA memperketat aturan pelaporan bagi perusahaan yang mengembangkan sistem bantuan pengemudi canggih maupun teknologi kendaraan swakemudi. Mereka menilai transparansi data menjadi hal penting agar publik memperoleh gambaran yang akurat mengenai tingkat keselamatan teknologi otomotif generasi baru.

Perdebatan mengenai keamanan FSD ternyata tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Eropa, Tesla juga menghadapi pertanyaan terkait data yang digunakan untuk memperoleh persetujuan regulator.

Dalam upayanya memperluas penggunaan Full Self-Driving di kawasan Eropa, Tesla dilaporkan menyampaikan proyeksi keselamatan yang dianggap terlalu optimistis kepada sejumlah regulator.

Reuters melaporkan manajer kebijakan Tesla, Ivan Komusanac, pernah mengirim surat elektronik kepada regulator Swedia yang menyebut FSD berpotensi menyelamatkan 32.000 nyawa dan mencegah 1,9 juta cedera.

Belakangan diketahui angka tersebut berasal dari simulasi berbasis data Amerika Serikat dengan asumsi seluruh kendaraan digantikan oleh Tesla yang menggunakan FSD.

Otoritas Transportasi Swedia pun menyatakan akan melakukan pemeriksaan lebih mendalam terhadap data yang diajukan sebelum memberikan dukungan terhadap penggunaan teknologi tersebut.

Kontroversi ini menjadi tantangan baru bagi Tesla yang selama ini menjadikan teknologi Full Self-Driving sebagai salah satu senjata utama dalam persaingan kendaraan listrik global. Di tengah ambisi memperluas penggunaan sistem swakemudi, perusahaan dituntut membuktikan bahwa klaim keselamatan yang disampaikan benar-benar didukung data yang transparan dan dapat diverifikasi.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut