Agrinas Ungkap Harga Mobil Produksi Dalam Negeri 25 Persen Lebih Mahal dari India, Begini Kata Gaikindo
JAKARTA, iNews.id - PT Agrinas Pangan Nusantara mengungkapkan harga mobil produksi dalam negeri 25 persen lebih mahal dari India. Selain itu, mereka menyebut pabrikan domestik hanya sanggup memenuhi 45.000 unit pikap dari total kebutuhan sekitar 105.500 unit.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengatakan pihaknya telah melakukan penawaran ke sejumlah produsen kendaraan di dalam negeri. Dia membantah tudingan tidak memprioritaskan produsen lokal.
“Klarifikasi kami bahwa tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal itu tidak benar. Karena kami terbuka, kami juga melakukan kegiatan (proses penawaran pengadaan) ini secara transparan, dan semua produsen kami beri kesempatan yang sama,” kata Joao di Kantor Agrinas, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, Agrinas telah mengundang sejumlah pabrikan besar untuk menyatakan kesanggupan produksi. Namun kapasitas yang ditawarkan belum mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dengan tenggat waktu relatif singkat.
Dari dokumen yang dipaparkan, terdapat empat perusahaan otomotif yang menyampaikan kemampuan produksi terbatas. Total kapasitas maksimal yang dapat dipenuhi tidak lebih dari 45.000 unit, baik untuk truk, pikap 4x4, maupun kendaraan niaga lainnya.
Empat merek tersebut yakni Mitsubishi Fuso, Foton Aumark, Hino, dan Isuzu. Rinciannya, Mitsubishi Fuso hanya mampu memproduksi 20.600 unit, Foton Aumark 13.500 unit, Hino 10.000 unit, dan Isuzu 900 unit.
“Mereka hanya mampu memproduksi inden unit per bulan. Artinya bahwa kebutuhan kami tidak bisa terpenuhi, dan harganya pun ditawarkan sekitar 25 persen lebih mahal dengan kompetitor yang kami akhirnya berkontrak,” ujar Joao.
Alasan Impor dari India
Joao mengungkapkan kebutuhan kendaraan untuk mendukung operasional Kopdes Merah Putih mencapai lebih dari 100.000 unit. Jumlah tersebut dinilai krusial untuk distribusi hasil pertanian serta kebutuhan pokok ke berbagai daerah.
Dia mengaku telah melakukan lobi dengan sejumlah grup otomotif besar, termasuk perusahaan di bawah naungan Astra International serta prinsipal Jepang. Negosiasi difokuskan pada harga dan skema pengadaan jangka panjang.
“Seharusnya kami bisa diberikan harga khusus sehingga kami mampu atau kami mau untuk ber-deal dengan mereka. Tapi sampai dengan terakhir, kami tidak mendapatkan atau tidak dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar gitu. Khususnya India,” katanya.
Menurut Joao, keputusan impor diambil setelah mempertimbangkan aspek harga serta kepastian pasokan unit dalam jumlah besar. Kepastian waktu pengiriman dinilai penting agar program Kopdes Merah Putih berjalan sesuai target distribusi.
Gaikindo Beri Penjelasan
Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyatakan Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas memproduksi kendaraan pikap, baik 4x4 maupun 4x2. Namun mayoritas produsen saat ini lebih fokus pada segmen 4x2 karena permintaan pasar domestik lebih besar di kategori tersebut.
“Industri ini tergantung dari pasarnya. Saat ini, pasar terbesar kendaraan niaga ada di segmen 4x2. Oleh karena itu, produsen lebih banyak memproduksi kendaraan niaga 4x2,” ujar Putu di Jakarta, dikutip Selasa (24/2/2026).
Dia menambahkan segmen 4x4 pernah diproduksi di dalam negeri, tetapi permintaannya relatif terbatas. Sebaliknya, segmen 4x2 berkembang lebih kuat dan ditopang industri hulu hingga komponen.
Untuk kategori truk ringan atau light truck, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) telah melampaui 42 persen. Capaian tersebut mencerminkan ekosistem industri otomotif nasional yang terus berkembang.
“Dari sisi hilir, jaringan purnajual juga telah tersebar di seluruh Indonesia, sehingga operasional kendaraan niaga relatif terjamin, baik dari sisi bengkel maupun ketersediaan suku cadang," kata Putu.
Sementara itu, Ketua Harian Gaikindo sekaligus Direktur Isuzu Astra Motor Anton Kumonty menilai struktur harga kendaraan tidak bisa dilepaskan dari variabel teknis dan kebijakan perusahaan. Dia mengingatkan pembahasan harga harus dilihat secara komprehensif.
“Terkait harga, daya saing sangat bergantung pada spesifikasi teknis serta kebijakan penetapan harga. Lalu ada masalah costing dan pricing,” ujar Anton.
Wakil Ketua Gaikindo Rizwan Alamsyah menyoroti aspek regulasi dan legalitas kendaraan. Di mana kendaraan prdouksi dalam negeri telah melalui berbagai kelayakan uji dari pemerintah.
“Kami selama ini telah melalui prosedur Sertifikat Uji Tipe (SUT) dan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) sebagai bukti homologasi (pengesahan tipe kendaraan) sebelum dioperasikan di jalan raya. Bagaimana dengan kendaraan impor?,” katanya.
Di segmen kendaraan komersial kelas menengah ke bawah, sejumlah produsen seperti PT Suzuki Indomobil Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan PT Astra Daihatsu Motor memiliki kapasitas produksi pikap lebih dari 400.000 unit per tahun. Namun utilisasi kapasitas tersebut belum optimal akibat lesunya permintaan domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Editor: Dani M Dahwilani