BYD Kenalkan Blade Battery Generasi Kedua, Isi Daya 97 Persen Hanya 9 Menit
Peningkatan kepadatan energi ini berpengaruh pada efisiensi penyimpanan listrik di dalam baterai. Kapasitas yang lebih optimal, kendaraan dapat menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya.
Teknologi baterai terbaru ini pertama kali digunakan pada sedan listrik premium Yangwang U7. Model tersebut dibekali paket baterai berkapasitas 150 kWh yang tergolong sangat besar untuk kendaraan listrik produksi massal.
Atas kapasitas tersebut, Yangwang U7 mampu menempuh jarak hingga 1.006 kilometer berdasarkan siklus pengujian CLTC di China. Angka ini menjadi salah satu capaian jarak tempuh terpanjang yang pernah dicatat kendaraan listrik.
Jika menggunakan standar pengujian WLTP yang dianggap lebih realistis untuk penggunaan harian, mobil ini masih mampu menempuh jarak sekitar 825 kilometer dalam sekali pengisian penuh.
Untuk mendukung teknologi pengisian daya super cepat tersebut, BYD juga mengembangkan infrastruktur pengisian terbaru berupa stasiun Flash Charging di China. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung kebutuhan daya besar dari baterai generasi baru.
Stasiun pengisian tersebut memiliki output maksimal hingga 1.500 kW dengan tegangan mencapai 1.000 volt. Kapasitas ini jauh lebih tinggi dibandingkan standar fast charging yang saat ini banyak digunakan pada kendaraan listrik.
Daya sebesar itu, proses pengisian energi dapat berlangsung sangat cepat tanpa mengorbankan stabilitas maupun keamanan sistem baterai.
Selain menghadirkan pengisian yang lebih cepat, Blade Battery generasi kedua juga diklaim memiliki usia pakai yang lebih panjang dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan kendaraan listrik dalam jangka panjang.
BYD menilai kombinasi peningkatan kepadatan energi, kecepatan pengisian, serta daya tahan baterai akan memperkuat posisi perusahaan di pasar kendaraan listrik global.
Perusahaan bahkan menargetkan pembangunan sekitar 20.000 stasiun Flash Charging di berbagai wilayah China hingga akhir 2026. Setelah itu, jaringan pengisian daya tersebut direncanakan akan diperluas ke berbagai negara lain.
Eagle Zhao menerangkan dalam inovasinya salah satu keunggulan utama BYD adalah sistem integrasi vertikal yang diterapkan dalam proses produksi kendaraan listrik. Sistem ini, sebagian besar komponen kendaraan dikembangkan secara mandiri oleh perusahaan.
Komponen tersebut meliputi baterai, motor listrik, hingga sistem perangkat lunak kendaraan. Pendekatan ini memungkinkan BYD memiliki kontrol lebih besar terhadap kualitas produk sekaligus efisiensi biaya produksi.
Melalui integrasi tersebut, perusahaan dapat menghadirkan teknologi kendaraan listrik dengan harga yang lebih kompetitif di pasar. “Fokus kami tetap pada strategi harga yang dapat dijangkau untuk memenuhi beragam kebutuhan masyarakat Indonesia,” kata Eagle Zhao.
Strategi harga yang kompetitif dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia. Saat ini, adopsi mobil listrik masih terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Selain itu, investasi besar dalam riset dan pengembangan juga menjadi bagian dari strategi BYD dalam menghadirkan inovasi teknologi terbaru.
Pengembangan baterai generasi baru, infrastruktur pengisian super cepat, serta strategi harga yang kompetitif, BYD optimistis dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di berbagai pasar, termasuk Indonesia.
Editor: Dani M Dahwilani