Terungkap! Ini Alasan Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny Mulai Gunakan Alat Berat
Syafii menegaskan penggunaan alat berat dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Proses pengangkatan puing dilakukan blok per blok, dimulai dari yang tidak terkoneksi dengan struktur utama. Setiap blok yang diangkat kembali dipindai ulang untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
“Kalau puing lebih dari 5 ton akan dilakukan proses cutting lebih dulu. Setiap kali ada perubahan struktur, scanning ulang wajib dilakukan. Ini agar evakuasi tetap akurat dan aman,” ucapnya.
Syafii menambahkan, berdasarkan pemetaan, tujuh korban teridentifikasi berada di sektor A2 di lantai dasar, tertimpa balok besar. Evakuasi mereka tidak mungkin dilakukan tanpa pengangkatan struktur atas menggunakan alat berat.
Selain nihilnya tanda kehidupan, faktor dekomposisi biologis juga menjadi alasan percepatan evakuasi dengan alat berat.
Syafii menyebut, fase pembusukan jenazah dimulai kurang dari 12 jam setelah kematian, lalu menyebarkan unsur kimiawi dan biologis berbahaya setelah 48 jam.
“Proses ini bisa memengaruhi kesehatan tim evakuasi karena zat kimiawi yang terlepas dapat terhirup atau terserap melalui kulit, apalagi dengan suhu panas di lokasi,” ucapnya.
Sebelum peralihan fase evakuasi, Basarnas dan BNPB telah berkoordinasi dengan keluarga korban. Mereka diberi penjelasan terkait hasil deteksi nihil dan risiko kesehatan. Keluarga pun menyatakan sepakat agar alat berat diturunkan untuk mempercepat proses evakuasi.
Editor: Donald Karouw