Puncak Musim Kemarau, BMKG: Karhutla di Riau di Level Sangat Tinggi!
Dwikorita juga mengingatkan agar data hotspot dianalisis secara hati-hati.
“Tidak semua hotspot dari satelit luar negeri itu akurat. Bahkan ada yang hanya akibat refleksi panas permukaan, bukan dari kebakaran lahan,” katanya.
Dia menegaskan sistem SiPongi milik dalam negeri lebih andal, karena mampu memantau titik panas secara real-time dan membedakan tingkat kepercayaannya.
Sementara Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Seto Sugiharto membeberkan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut Riau telah mencapai 1 meter di bawah permukaan.
“Target kita dalam seminggu ke depan, TMAT bisa naik hingga di atas 40 cm. Ini penting agar lahan tidak mudah terbakar,” ujarnya.
Saat ini, terdapat enam pesawat yang disiapkan untuk operasi TMC dan akan dioptimalkan hingga 28 Juli. Hal ini bertujuan menampung cadangan air, sebab curah hujan diprediksi kembali menurun di awal Agustus.
BMKG menegaskan bahwa menghadapi potensi karhutla di Riau tak bisa dilakukan secara sektoral. Diperlukan koordinasi lintas lembaga, TNI, Polri hingga masyarakat sipil.
Editor: Donald Karouw