Puan Minta Pemerintah Tak Anggap Sepele Hantavirus, Jangan Sampai Terulang Seperti Covid-19
JAKARTA, iNews.id - Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah menyiapkan langkah antisipasi terkait potensi ancaman Hantavirus di Indonesia. Puan mewanti-wanti jangan sampai pemerintah menganggap sepele Hantavirus.
"Jangan sampai kemudian nanti menganggap hal ini hal yang tidak perlu diantisipasi dan dimitigasi kemudian menjadi luas dan melebar," kata Puan di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Puan tak ingin kemunculan Hantavirus ini justru akan membuat kondisinya sama seperti pengalaman pada pandemi Covid-19 kemarin.
"Pintu-pintu yang memang harus dicegah ya sebaiknya dicegah, sehingga jangan sampai meluas tanpa diantisipasi," ujarnya.
Jangan Panik! 2 Warga Singapura Diduga Kena Hantavirus Ternyata Negatif
Dia menegaskan, DPR memberikan perhatian terhadap isu kesehatan ini. Dia meminta alat kelengkapan Dewan (AKD) terkait bisa menindaklanjuti dengan menggelar rapat bersama pemerintah.
"Karena hari ini baru pembukaan sidang di DPR, nanti tentu saja komisi yang terkait kami akan minta untuk meminta penjelasan dari stakeholder yang terkait untuk melakukan pencegahan-pencegahan atau antisipasi terkait dengan hal tersebut," katanya.
Sebelumnya, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru seperti Covid-19. Menurut Prof Tjandra, virus ini sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan pertama kali dilaporkan pada manusia sekitar tahun 1970-an di Korea.
"Hanta ini sebenarnya nama sungai di Korea Selatan pada waktu pertama kali keluar. Jadi penting dipahami, ini bukan virus baru, ini bukan seperti Covid-19. Ini sudah ada sejak 1970-an," ujar Prof Tjandra di podcast Hola Dok by Trijaya FM, Senin (11/5/2026).
Dia menjelaskan, kemungkinan virus tersebut bahkan sudah ada sebelum itu, tetapi baru mulai terdokumentasi secara medis pada manusia di era 1970-an.
"Bukan tidak mungkin sudah ada sebelumnya juga, tapi laporan pada manusia itu mulai sekitar 1970-an," lanjutnya.
Editor: Reza Fajri