Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Industri Plastik Waspadai Kelangkaan 50 Hari ke Depan imbas Penutupan Selat Hormuz
Advertisement . Scroll to see content

Produsen Sulit Dapat Bahan Baku Plastik, Konsumen Diminta Berhemat

Selasa, 07 April 2026 - 15:18:00 WIB
Produsen Sulit Dapat Bahan Baku Plastik, Konsumen Diminta Berhemat
Inaplas mewanti-wanti kelangkaan kemasan plastik di pasaran imbas kesulitan memperoleh bahan baku plastik berupa nafta. (Foto: Ilustrasi/Freepik)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkapkan kesulitan memperoleh bahan baku plastik berupa nafta yang banyak dipasok dari negara Timur Tengah. Inaplas mewanti-wanti kelangkaan kemasan plastik di pasaran. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Inaplas, Fajar Budiono mengimbau kepada para konsumen agar menggunakan plastik seminimal mungkin. Pasalnya, kelangkaan bahan baku yang memicu inflasi harga kemasan plastik belum tahu akan berlangsung sampai kapan, menyusul ketidakpastian global.

"Jadi jangan sampai berlebihan juga untuk menggunakan plastik, contoh kalau kita belanja ya sudah kita tidak harus semua sudah pakai kantong plastik secara berlebihan. Kami harus benar-benar jaga stok sehingga kami mau minta kepada pengguna ya harus belanja sesuai dengan kebutuhannya saja," ujar Fajar kepada iNews.id, Senin (6/4/2026).

Fajar menambahkan, produsen dalam kondisi yang tak ingin bertaruh risiko bisnis. Dia menekankan, para produsen belum berani menambah stok bahan baku untuk memproduksi plastik di saat harga sedang tinggi seperti saat ini. Kalkulasi bisnis ini merujuk pada sejarah krisis periode 1998 dan 2008.

Merujuk Trading Economics, bahan baku plastik berupa nafta naik (1,08 persen) menjadi 995,66 dolar AS/T pada 6 April 2026. Selama sebulan terakhir, harga nafta naik 27,77 persen, dan naik 86,31 persen dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu.

"Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga (bahan baku plastik) bisa sampai 2.100 dolar AS per metric ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi 1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup, itu yang yang dihindari sekarang karena ketidakpastian ini enggak tahu berubahnya kapan, karena waktunya tidak ada yang bisa memprediksikan dan itu di luar kontrol kita," tuturnya. 

Dia menyebut, perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang masih meruncing mengakibatkan tersendatnya distribusi rantai pasok produksi plastik dari Timur Tengah seiring penutupan Selat Hormuz. Pelaku industri plastik lantas bertahan melakukan produksi berdasar bahan baku tersisa secara terbatas.

"Karena memang barangnya (bahan baku plastik) yang ada terbatas karena itu kami antisipasi jangan sampai 50 hari ke depan tuh habis di tengah jalan," ucapnya.

Fajar menyebut, produsen kemasan plastik saat ini melakukan penyesuaian produksi, baik mencari sumber alternatif bahan baku hingga mengatur ulang ukuran plastik. 

Dia menuturkan, produsen bisa menaikkan kandungan daur ulang dengan material virgin sebagai upaya inovasi produksi. Pencampuran material ini digadang-gadang bisa menurunkan biaya produksi, selain sebagai alternatif pembuatan plastik.

Produsen tidak menafikan adanya kenaikan harga di pasaran selepas Idulfitri dalam kisaran yang tidak sedikit. 

"Yang jelas memang nanti harga akan ada di keseimbangan baru, enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini," ucapnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut