Produsen Otomotif di Indonesia Berharap Konflik di Timur Tengah Cepat Berakhir, Ini yang Dikhawatirkan
JAKARTA, iNews.id – Produsen otomotif di Indonesia berharap konflik di Timur Tengah segera mereda. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dikhawatirkan memicu gangguan rantai pasok global hingga kenaikan biaya logistik.
Sejumlah perusahaan otomotif menilai situasi saat ini belum berdampak langsung terhadap operasional di dalam negeri. Namun, mereka tetap memantau perkembangan karena konflik berkepanjangan berpotensi memengaruhi distribusi komponen, jalur pelayaran, serta stabilitas ekonomi global.
Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra mengatakan, aktivitas ekspor Suzuki dari Indonesia ke berbagai negara tujuan masih berjalan normal. Hingga kini belum ada penghentian pengiriman secara menyeluruh.
Menurutnya, produksi dalam negeri relatif aman karena tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) kendaraan Suzuki sudah tinggi. "Komponen lokal yang mencapai hampir 90 persen membuat perusahaan tidak terlalu bergantung pada pasokan impor," ujarnya saat dikonfirmasi media, Rabu (11/3/2026).
Daftar 10 Mobil Terlaris Februari 2026: Suzuki Carry Pick-Up Bikin Kejutan Kalahkan Kendaraan Penumpang
Meski begitu, Suzuki tetap mencermati perkembangan situasi global yang dapat memengaruhi industri otomotif. Risiko yang diwaspadai antara lain perubahan rute pelayaran, potensi ancaman keamanan di jalur laut, serta fluktuasi nilai tukar mata uang.
Selain itu, perusahaan juga mengantisipasi kemungkinan kenaikan biaya logistik jika konflik membuat jalur distribusi internasional terganggu. Kondisi tersebut bisa berdampak pada biaya operasional hingga harga kendaraan.
Penjualan Mobil di Indonesia Februari 2026 Tembus 81.159 Unit, Ini 10 Brand Terlaris
Sementara itu, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao melihat konflik di Timur Tengah dari perspektif jangka panjang. Menurut dia, situasi geopolitik justru memperkuat urgensi percepatan elektrifikasi kendaraan di dunia.