Polemik Film Pesta Babi, Ray Rangkuti: Yang Haram Itu Dimakan Bukan Dibicarakan
JAKARTA, iNews.id - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, menilai polemik terkait film dokumenterPesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tidak perlu disikapi secara berlebihan. Menurut dia, penggunaan kata babi dalam judul film itu seharusnya tidak otomatis dianggap sensitif.
Ray mempertanyakan alasan sebagian pihak menganggap judul tersebut bermasalah. Dia membandingkannya dengan penggunaan nama hewan lain yang dinilai biasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Apa beda kata pesta babi dengan pesta ayam, dengan pesta kambing? Itu sama-sama binatang. Babi binatang, ayam binatang, kambing binatang, sapi binatang. Kalau disebut pesta ayam orang enggak sensitif, apa yang membuat orang sensitif dengan pesta babi?” kata Ray dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Ada Apa di Balik Film Pesta Babi?' di iNews, Selasa (19/5/2026).
Dia menilai respons berlebihan terhadap istilah tersebut justru menunjukkan cara pandang yang belum proporsional. Menurutnya, dalam ajaran agama Islam, yang dilarang adalah mengonsumsi babi, bukan membicarakan atau menjadikannya tema diskusi maupun karya seni.
“Babi itu haram dimakan, tetapi tidak haram untuk dibicarakan. Yang enggak boleh itu dimakan oleh orang-orang Muslim, tapi dibicarakan enggak (haram), dibuat film enggak (haram),” ujarnya.