Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Jamin Fundamental Ekonomi Kokoh: Indonesia Tidak Sedang Menuju Krisis!
Advertisement . Scroll to see content

Perlambatan Ekonomi Tekan Pendapatan Masyarakat, Agus Taufiq Desak Pemerintah Perluas Lapangan Kerja

Senin, 06 Juli 2026 - 18:28:00 WIB
Perlambatan Ekonomi Tekan Pendapatan Masyarakat, Agus Taufiq Desak Pemerintah Perluas Lapangan Kerja
Kepala Unit Rumah Kerja DPP Partai Perindo Agus Taufiq (Foto: Partai Perindo)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perlambatan ekonomi tidak hanya tecermin dari berbagai indikator makro, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh rumah tangga melalui melemahnya daya beli dan menurunnya pendapatan. Temuan Survei Litbang Kompas yang dirilis pada bulan Juni 2026 lalu memperlihatkan semakin banyak masyarakat yang menilai kondisi ekonomi nasional memburuk.

Kepala Unit Rumah Kerja DPP Partai PerindoAgus Taufiq menilai hasil survei tersebut menjadi sinyal bahwa perlambatan ekonomi telah berdampak terhadap dunia kerja dan keberlangsungan usaha masyarakat.

"Survei Litbang Kompas menunjukkan 47,3 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk dan 8,9 persen sangat buruk. Ketika lebih dari separuh masyarakat merasakan tekanan ekonomi, pemerintah harus melihatnya sebagai peringatan bahwa perlambatan sudah dirasakan hingga tingkat rumah tangga," kata Agus saat ditemui di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Dia menilai persepsi tersebut sejalan dengan kondisi pendapatan masyarakat. Survei yang sama mencatat 39,7 persen responden mengaku pendapatannya tidak meningkat, sedangkan 30,5 persen mengalami penurunan karena usaha melambat dan hanya 5,9 persen yang memperoleh kenaikan gaji atau upah.

"Data itu menunjukkan persoalan utama bukan sekadar kenaikan harga, tetapi melemahnya kemampuan masyarakat memperoleh penghasilan. Ketika dunia usaha menahan ekspansi, perekrutan tenaga kerja ikut melambat dan pendapatan pekerja maupun pelaku UMKM ikut tertekan," ujarnya.

Agus mengingatkan tekanan tersebut berpotensi memperlemah konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi itu juga membuat kemampuan masyarakat menyimpan dana cadangan semakin terbatas.

Survei Litbang Kompas mencatat 59,9 persen responden belum siap menghadapi kondisi ekonomi yang lebih berat karena tidak memiliki tabungan maupun dana darurat. Di sisi lain, hanya 37,1 persen responden yang mengaku memiliki kesiapan finansial.

"Kerentanan ini harus dijawab dengan kebijakan yang menyentuh akar persoalan. Pemerintah perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja, memperkuat sektor padat karya, memperluas akses pembiayaan UMKM produktif, dan memastikan program perlindungan sosial benar-benar menjangkau masyarakat yang kehilangan penghasilan," tegas Ketua Umum Ikatan Alumni Teknik Mesin UI 2024-2027 ini.

Agus juga menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok dan sulitnya memperoleh pekerjaan. Survei menunjukkan 39,1 persen responden mengkhawatirkan kenaikan harga bahan pokok, sedangkan 61,8 persen menilai mencari pekerjaan di lingkungan tempat tinggalnya kini semakin sulit.

Dia menegaskan pengendalian inflasi harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang mampu menciptakan pekerjaan berkualitas. Menurutnya, menjaga daya beli masyarakat hanya dapat dicapai apabila kesempatan kerja tetap terbuka dan pendapatan masyarakat terus meningkat.

"Perlindungan tenaga kerja tidak cukup dilakukan setelah masyarakat kehilangan pekerjaan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan iklim usaha tetap bergerak sehingga perusahaan mampu mempertahankan pekerja, membuka rekrutmen baru, dan memberi ruang peningkatan pendapatan masyarakat," pungkas Agus.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut