Perang AS-Israel vs Iran Pecah, Guru Besar IPB Yakin Stok dan Produksi Pangan Indonesia Aman
JAKARTA, iNews.id - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Rektor Perbanas Institute, Hermanto Siregar, menegaskan ketersediaan dan produksi pangan nasional dalam kondisi mencukupi di tengah kekhawatiran dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Hermanto merespons kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi merembet pada stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia, terutama dalam aspek ketahanan pangan.
“Ketersediaan dan produksi pangan Indonesia mencukupi,” kata Hermanto dikutip, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, dampak yang perlu diantisipasi pemerintah justru berada pada sektor energi. Perang di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia. Jika itu terjadi, pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) tetap terjaga serta distribusinya berjalan lancar.
Evakuasi WNI dari Iran, Menlu Ungkap Perjalanan bakal Panjang
Dia juga mendorong percepatan pengembangan sumber energi non-minyak, khususnya energi terbarukan, sebagai langkah strategis menghadapi potensi lonjakan harga energi global.
Hermanto mengingatkan bahwa dalam kondisi krisis energi, bukan hanya harga BBM yang terdampak, tetapi juga harga pangan. Namun, jika dikelola dengan baik, situasi tersebut justru dapat menjadi peluang bagi petani tanaman pangan dalam negeri.
“Produksi tanaman pangan kita agar dipacu. Lalu Badan Urusan Logistik (Bulog) harus lebih aktif melakukan pengadaan beras dan bahan pangan lain, sehingga stok di gudang-gudangnya mencukupi, dan senantiasa siap melaksanakan operasi pasar,” katanya.
Dalam implementasinya, lanjut Hermanto, pemerintah perlu menggandeng sektor swasta agar kebijakan penguatan ketahanan pangan dan energi dapat berjalan lebih efisien dan efektif dengan tata kelola yang baik.
Dengan kombinasi penguatan produksi domestik, optimalisasi cadangan pangan, serta akselerasi energi terbarukan, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Editor: Reza Fajri