Peneliti Hubungan Internasional Ungkap Alasan Model United Nations Harus Populer di Indonesia
Di sisi lain, ia juga melihat perlunya dukungan pemerintah khususnya melalui Kementerian Luar Negeri yang dianggap krusial untuk membawa semangat diplomasi publik ke ranah sekolah menengah. Calvin menyarankan agar kementerian terkait mulai melihat potensi besar yang dimiliki oleh siswa SMA dalam bidang hubungan internasional.
"Harusnya Kementerian Luar Negeri yang bergerak turun. Harusnya ada yang namanya satu kantor di Kementerian, mungkin namanya Direktorat Diplomasi Publik, mereka juga mulai melihat MUN di level ini, SMA. Kami juga bisa mendorong pemda-pemda," tutur Calvin.
Lebih lanjut, ia membeberkan fakta menarik dari MUN, di mana prinsip-prinsip yang dijalankan sebetulnya sangat selaras dengan akar budaya Indonesia yang mengedepankan musyawarah. Hal tersebut bisa menjadi kekuatan utama yang bisa membuat anak muda Indonesia unggul di panggung internasional.
"Karena budaya Indonesia itu sebenarnya buat saya itu paling efektif di dunia internasional. Budaya musyawarah mufakat, kita kan suka nongkrong ya, suka ngeriung gitu kan. Budaya itu membuat setiap kali kita ada masalah kita rembukin dulu," beber dia.
Selain itu, nilai-nilai luhur inilah yang kemudian diadopsi dalam mekanisme kawasan seperti ASEAN, di mana konflik diselesaikan melalui dialog santun daripada peperangan. Ia berpendapat bahwa secara natural, anak muda Indonesia akan merasa nyaman dengan pola-pola diskusi yang ditawarkan oleh MUN.
"Budaya musyawarah mufakat itu diadopsi ke level Asia Tenggara karena Indonesia suka ngeriung. Budaya Indonesia itu membawa suasana santun, walaupun kita sendiri suka ribut, tapi ributnya kita kan selalu selesai dengan turun rembuk, jalan damai, ya ngobrol gitu kan," tandas Calvin.
Editor: Muhammad Sukardi