Organisasi Gereja PGLII Desak JK Klarifikasi Terbuka soal Mati Syahid, Dinilai Keliru Memahami Ajaran Kristen
JAKARTA, iNews.id - Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) menyampaikan keberatan resmi atas pernyataan Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) terkait mati syahid, dalam ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Organisasi gereja ini meminta klarifikasi terbuka dari JK karena menilai pernyataannya keliru dan tidak mencerminkan ajaran Kekristenan.
Pengurus Pusat (PP) PGLII menyoroti pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut dalam konflik Poso dan Ambon, baik Muslim maupun Kristen sama-sama menganggap membunuh atau terbunuh sebagai bentuk syahid. Pandangan tersebut bertentangan dengan prinsip dasar iman Kristen.
"Pernyataan tersebut sangat berbeda, bahkan bertentangan dengan ajaran Tuhan kami Yesus Kristus. Dengan pernyataan Bapak tersebut, kami menganggap Bapak telah keliru memahami ajaran dalam Kekristenan yang berdasarkan Kitab Suci, yaitu Alkitab," kata Ketua Umum PGLII Pendeta Tommy O Lengkong dalam pernyataannya, Selasa (14/4/2026).
PGLII menegaskan, ajaran Kristen justru menekankan untuk saling mengasihi, mengampuni. Umat Kristen diajarkan untuk tidak membalas kejahatan serta kekerasan dengan kejahatan serta kekerasan terhadap orang lain.
Duduk Perkara JK Dilaporkan ke Polda Metro gegara Pernyataan Mati Syahid
"Dalam Injil Yohanes pasal 13 ayat 34 tertulis: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi," katanya.
Dia juga mengatakan, Yesus Kristus mengajarkan untuk tidak menghakimi, jangan menghukum, tetapi harus mengampuni.
Jubir Buka Suara usai JK Dilaporkan ke Polisi terkait Pernyataan Mati Syahid
"Karena dalam Injil Lukas pasal 6 ayat 37 tertulis: Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni."
GAMKI Laporkan Jusuf Kalla ke Polisi, Kecam Pernyataan soal Mati Syahid
Umat Kristen juga diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi harus mengusahakan perdamaian untuk semua orang.
"Surat Roma pasal 12 ayat 17 dan 18 tertulis: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, Kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang," katanya.
Jusuf Kalla, Makna Syahid, dan Pentingnya Menjaga Narasi Perdamaian
PGLII juga meluruskan pemahaman tentang konsep martir dalam Kekristenan. Martir bukanlah tindakan membunuh atas nama agama, melainkan kesaksian iman yang diwujudkan melalui kesetiaan kepada Tuhan, bahkan hingga menghadapi penderitaan atau kematian.
"Martir adalah seseorang yang mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus serta telah membuktikan kekuatan dan kesetiaan iman mereka kepada Kristus dengan menanggung kematian yang kejam," katanya.
Organisasi itu juga mengingatkan, narasi yang keliru terkait ajaran agama berpotensi menimbulkan salah persepsi di tengah masyarakat dan dapat mengganggu relasi antarumat beragama. Karena itu, PGLII meminta Jusuf Kalla memberikan penjelasan terbuka untuk meluruskan pernyataannya yang telah viral di media sosial.
"Kami sangat menyesalkan pernyataan Bapak tersebut. Sekali lagi kami menyampaikan bahwa Bapak telah keliru memahami ajaran dalam Kekristenan yang berdasarkan Alkitab. Untuk itu kami meminta Bapak segera mengklarifikasi pernyataan Bapak tersebut," tulis PGLII.
JK sebelumnya telah dilaporkan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) bersama lembaga Kristen dan organisasi kemasyarakatan lain ke Polda Metro Jaya terkait pernyataannya soal mati syahid.
Sebelumnya, Juru Bicara JK, Husain Abdullah mengatakan, video pernyataan JK dalam ceramah di Masjid UGM pada 5 Maret 2026 diduga telah terpotong dan diberi narasi yang melenceng. Husain mengatakan agar pihak pelapor terlebih dahulu mengkaji secara utuh konteks pernyataan yang beredar.
Menurut Husain, inti ceramah JK pada 5 Maret lalu merupakan pembelajaran tentang cara mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, merujuk pada pengalaman konflik di Poso dan Ambon. JK saat itu mengungkapkan realitas sosiologis yang berkembang di tengah konflik, di mana kedua pihak baik Muslim maupun Kristen, menggunakan jargon agama untuk membenarkan tindakan kekerasan.
"Inti pesan yang disampaikan Pak JK saat ceramah di UGM adalah semacam pembelajaran bagaimana mendamaikan dua pihak yang bertikai. Pak JK mengungkapkan pendapat orang-orang yang bertikai saat kerusuhan Poso dan Ambon atau realitas sosiologis saat terjadi konflik, bukan pendapat pribadi Pak JK," kata Husain kepada iNews.id, Senin (13/4/2026).
"Realitasnya saat itu, kedua pihak yang berkonflik (Islam dan Kristen) menggunakan jargon agama untuk saling membunuh. Pemahaman mereka atau mereka beranggapan, baik yang Islam maupun yang Kristen jika membunuh lawan atau terbunuh akan masuk surga," katanya.
Konflik Poso dan Ambon, kata Husain, merupakan konflik bernuansa SARA yang sulit dihentikan dan menelan ribuan korban jiwa, yakni sekitar 2.000 orang di Poso dan 5.000 di Ambon. Dalam ceramahnya, JK menegaskan pemahaman yang berkembang saat itu harus diluruskan, karena saling membunuh tidak dibenarkan dalam agama mana pun.
"Maka Pak JK mengatakan Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga. Karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian," tambah Husain.
Husain menegaskan, apa yang disampaikan JK bukanlah pendapat pribadi, melainkan gambaran kondisi nyata yang berkembang saat konflik, sekaligus pendekatan yang digunakan untuk meredam pertikaian.
Editor: Maria Christina