Melihat Toleransi dan Moderasi Beragama di Salatiga, Melalui Masjid Klenteng
Salah seorang pendiri Yayasan Zaenal Abidin, Ustaz Agus Ahmad, mengatakan, selain memperdalam ilmu agama berbasis salaf dengan kitab-kitab kuning, santri juga dibekali dengan ilmu entrepeneuer atau berbisnis. Harapannya ketika lulus kuliah dan lulus dari ponpes, santri tidak bingung masalah pekerjaan karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri.
Tak hanya dikenal dengan pesantren wirausaha, Masjid Klenteng juga masyhur dengan aktivitas sosial kemasyarakatan. Ini mudah terlihat ketika Bulan Ramadan. Pengelola Masjid Klenteng dan santri rutin menggelar bagi-bagi takjil. Bahkan, begitu menyatunya dengan masyarakat maupun budayanya, pengelola juga menggelar buka puasa bersama.
Masyarakat Multikultural
Masjid Klenteng adalah sedikit potret keunikan dari Kota Salatiga yang dikenal sebagai kota dengan toleransi tinggi. Toleransi ini terbangun karena masyarakat kota yang bermukim di bawah Gunung Merbabu ini sudah terbiasa menjalankan cara pandang, sikap, dan perilaku yang moderat dalam beragama.
Berkat praktik moderasi beragama yang teguh dijaga ini, Kota Salatiga pun selalu masuk dalam langganan tiga besar kota tertoleran se-Indonesia sejak 2015 hingga sekarang. Pada 2015, Salatiga dinobatkan sebagai kota paling toleran nomor dua. Kemudian 2017, turun di nomor tiga. Lalu, naik ke nomor dua pada 2018 dan di 2020, Salatiga ditetapkan sebagai kota tertoleran nomor satu di Indonesia.
Selain beragama yang moderat di tengah masyarakat multikultural, keberhasilan ini, tak lepas dari kebijakan pemerintah kota yang tidak diskriminatif terhadap semua penganut agama. Hal ini juga didukung oleh kuatnya kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah kota selaku pemangku kebijakan, Kementerian Agama, Forkopimda, organisasi keagamaan terutama Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Salatiga.