Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Airlangga Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Sekarang dan Era Krisis 98, Apa Itu?
Advertisement . Scroll to see content

Masih Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS

Senin, 25 Mei 2026 - 15:58:00 WIB
Masih Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah ditutup turun 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan, Senin (25/5/2026). (Foto: Ilustrasi/iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Senin (25/5/2026). Rupiah turun 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, sentimen eksternal saat ini dipengaruhi oleh dua sisi mata uang, baik yang bersifat mendinginkan tensi pasar maupun yang memicu kekhawatiran baru. Di satu sisi, pasar sempat merespons positif sinyal damai di Timur Tengah yang ditiupkan oleh Donald Trump.

“Yang positifnya itu adalah pasar ini optimis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun ya masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Blokade Selat Hormuz. Nah sebelumnya di hari Sabtu, Donald Trump ini mengatakan bahwa Washington dan Iran ini sebagian besar negosiasinya itu kemungkinan akan disepakati yang diperakasai oleh Pakistan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Namun, Ibrahim mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terlalu naif dan terburu-buru merayakan draf perdamaian tersebut.

Menurut analisisnya, terdapat ganjalan struktural yang sangat sensitif yang berisiko besar membalikkan keadaan dan memicu kegagalan total pada kesepakatan geopolitik tersebut.

"Nah tetapi kita harus ingat juga bahwa apakah notak kesepakaman ini akan ditatangani? Tidak. Karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah Uranium. Kemudian yang kedua tentang masalah dana yang dibekukan dari tahun 70-an. Ya ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total," tuturnya.

Faktor eksternal lain yang memperparah tekanan terhadap rupiah adalah beralihnya ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). 

Beralih ke faktor domestik, Ibrahim menyoroti mengapa penurunan harga minyak mentah dunia kali ini gagal memberikan daya dongkrak atau sentimen positif bagi Rupiah. 

Rupiah justru melempem sendirian akibat ketakutan pasar terhadap pengelolaan defisit anggaran negara serta polemik restrukturisasi regulasi tata niaga ekspor.

Kebijakan pembentukan satu pintu perdagangan komoditas strategis melalui Danantara dinilai mengundang sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional, yang berisiko memukul kredibilitas surat utang nasional.

"Kemudian yang ketiga ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro terhadap pasar ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan dan pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut besok ya ada 50-60 poin pelemahan," kata dia.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.740-Rp17.800 per dolar AS.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut