"Indeks dolar AS sendiri mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia masih belum akan pulih dari perang ikut mendukung dolar AS," katanya.
Kendati dibayangi tekanan eksternal yang pekat, rupiah dinilai masih memiliki bantalan sentimen positif dari dalam negeri. Lukman menyoroti rilis indeks global MSCI terbaru yang memutuskan untuk tidak mendegradasi posisi Indonesia dari kelompok pasar negara berkembang sebagai salah satu faktor penahan kejatuhan kurs yang lebih dalam.
Di sisi lain, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) diyakini akan tetap memegang peranan krusial sebagai jangkar stabilitas nilai tukar. Setelah BI mengerek suku bunga acuan ke level 5,75 persen, pasar memproyeksikan bank sentral masih memiliki ruang untuk melanjutkan pengetatan demi mengimbangi agresivitas global.
"BI rate sendiri sangat penting untuk mendukung rupiah dan diperkirakan masih akan dinaikkan kedepannya paling tidak 50bps lagi," ujar Lukman
Untuk perdagangan sepanjang hari ini, pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif sensitif pada rentang tertentu. "Range (rupiah diperkirakan) 17.800-17.900," kata Lukman.
Editor: Reza Fajri