Kompolnas Sebut Kasus Penyiraman Air Keras Novel Rumit
Jakarta, iNews.id – Tinggal menghitung hari, kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan genap tujuh bulan. Namun hingga kini polisi belum bisa mengungkap siapa pelakunya.
Menanggapi hal itu, Komisioner Kompolnas Poengky Indiarti berpendapat, sulitnya polisi mengungkap insiden yang berlangsung pada 11 April itu dikarenakan polisi belum cukup bukti. Puluhan Closed Circuit Television ( CCTV) di sekitar tempat kejadian sudah diperiksa, tetapi hasilnya belum menemui titik terang.
“Sosok pelaku tidak kelihatan, blur,” ujar Poengky, Sabtu (4/11/2017).
Novel Baswedan sebelumnya disiram air keras oleh dua orang usai sholat subuh di masjid di dekat rumahnya Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hingga kini penyelidikan Novel masih berlangsung. Sudah banyak dorongan kepada polisi untuk segera mengungkap kasus tersebut. Bahkan, Presiden Joko Widodo sempat memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk meminta penjelasan kasus penyerangan Novel Baswedan.
“Ini harus disadari untuk membuktikannya rumit. Sudah memperoleh bukti, mau 100 atau 200 hari bukan ukuran,” jelasnya.
Kendati belum ada titik terang atas kasus yang menimpa Novel, Kompolnas memandang kasus ini wajib untuk segera diselesaikan, mengingat sudah menjadi perhatian publik.
“Jangan sampai menimpa aktivis lain,” kata dia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menduga kasus Novel Baswedan ini merupakan teror yang dilakukan teroris yang dibentuk oleh para koruptor. Karena itu, Dahnil mendorong dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).
“Ini persengkokolan paripurna, sekali terungkap bisa buka pandora banyak hal. Jika pelaku terungkap, aktornya siapa bisa diungkap ada apa di belakangna,” tegasnya.
Saat ini, Novel masih menjalani pengobatan matanya. Operasi kedua seharusnya dilakukan pada Oktober, tetapi tidak bisa dijalankan oleh dokter karena selaput mata belum tumbuh seperti yang diharapkan.
Editor: Yudistiro Pranoto