Kisah Taruna Akmil David Fatoni, Sempat Dicibir karena Anak Tukang Pijat
"Bapak saya ini adalah tukang pijat, ada seseorang yang mencibir dan menghina saya ketika saya ingin menjadi taruna, mungkin karena kondisi ekonomi yang dikatakan sederhana dan saya dari kalangan orang yang biasa aja. Tapi semangat saya tetap ada untuk menjadi seorang taruna. Cibiran dan cemohan orang saya jadikan bahan motivasi," kata pria kelahiran Pamekasan Madura ini.
David merasa bersyukur memiliki orang tua yang ogah untuk tidak memberikan anaknya kehidupan yang layak. Butuh waktu tujuh tahun untuk David bisa hidup di rumah yang layak. Semua itu didapat lantaran kedua orangtuanya terus-menerus menabung.
"Saya bersyukur sekali mempunyai orangtua yang sebaik dan setegar beliau dalam mendidik saya sampai saya dapat sukses seperti sekarang ini," jelasnya.
Sejak kecil, tepatnya saat masih kelas 6 SD dirinya sudah gemar dengan olahraga atletik. Mula-mula hanya ikut lomba lari di tingkat kecamatan, namun berhasil menyabet juara 3 ketika itu.
Menginjak bangku SMP, bakatnya mulai tercium oleh Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Pamekasan, Madura. Sebulan setelah dilatih, David langsung unjuk gigi dengan mempersembahkan gelar juara tingkat kabupaten.