Kisah RA Kartini Perjuangkan Kesetaraan Gender
Ketika dia menimba ilmu di sekolah tersebut membuatnya belajar Bahasa Belanda. Kecerdasan Kartini semakin terasah. Sayangnya keinginannya untuk sekolah tidak bisa lama. Pada usia 15 tahun Kartini harus menghentikan langkahnya ke sekolahnya karena telah dipingit oleh K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Namun, hal itu membuatnya sangat gundah. Hingga akhirnya dia bertemu dengan sahabatnya dari Eropa dan mempelajari bagaimana seorang perempuan Eropa dengan membaca buku, majalah kala itu. Kemudian ia membandingkannya dengan perempuan Indonesia yang sangat berbeda.
Saat itu, perempuan Indonesia memiliki status yang rendah. Mereka tidak pernah mendapatkan persamaan, kebebasan, dan otonomi serta kesetaraan hukum. Adanya kondisi tersebut membuat miris hati dari Kartini. Ia ingin memajukan nasib perempuan pun tumbuh di hatinya.
Kartini merasa tergugah dan bertekad untuk merubah nasib kaumnya pada masa itu. Setelah dipingit pada usia 15 tahun, akhirnya ia menikah di usia 24 tahun pada tanggal 12 November 1903. Namun sayangnya Kartini bukanlah sebagai istri pertama dari K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, melainkan sebagai istri keempat dari Bupati Rembang itu.
Kala itu suaminya memahami maksud dari Kartini yang ingin memperjuangkan kaumnya, lalu ia mendukung penuh istrinya. Hal tersebut membuat Kartini semakin teguh dalam pendiriannya untuk membebaskan para perempuan.