Kisah Ki Ageng Cukil Wanakusuma, Rela Tinggalkan Keraton Yogyakarta demi Bergerilya Lawan Belanda
"Saya berbicara dengan Pak Harmoko?" tanya ajudan Presiden Soeharto.
"Ya betul, ada apa?" jawab Harmoko.
"Bapak mau bicara," timpal ajudan singkat.
Lalu di ujung telepon terdengar suara Soeharto. "Sedang apa, Harmoko?".
"Sahur Pak, baru selesai salat tahajud," jawab Harmoko.
"Harmoko masih diperlukan membantu saya dalam Kabinet Pembangunan VI," kata Soeharto.
"Tidak salah ini Pak? Saya sudah dua kali di kabinet," tanya Harmoko terkejut.
"Tidak salah. Laksanakan ya!" tandas Soeharto.
"Baik Pak," jawab Harmoko. Soeharto lalu menutup telepon.
Hal yang sama juga dialami Haryanto Dhanutirto. Ketika bersiap berbuka puasa, Deputi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu tiba-tiba ditelepon Presiden Soeharto.
Dia ditunjuk menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Pembangunan VI. Masih dalam kondisi bingung, Dhanutirto pun menjawab, "Saya siap membantu bapak," katanya sedikit ragu.
"Baiklah kalau begitu," kata Soeharto lalu hening sejenak.
"Sementara embargo dulu, yang lain belum perlu tahu," kata Pak Harto menyudahi telepon.
Tak hanya sebagai presiden, Soeharto yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Golkar juga tidak asal-asalan dalam memilih calon anggota DPR/MPR-RI dari partainya. Menjelang Pemilu 1992, Sekretaris Dewan Pembina Cosmas Batubara membawa daftar nama yang akan diusulkan menjadi anggota legislatif di tingkat pusat.