Kisah Haru Babinsa Serma Riadi: Diantar Penuh Cinta, Dinanti Penuh Rindu
Dia mengajarkan anak-anak yang diminati, utamanya belajar mengaji. Dia ingin anak-anak mendapatkan pendidikan agama yang cukup di samping pengetahuan umum.
Rumahnya menjadi sekolah kedua bagi anak-anak ini. Fitriah, istrinya adalah seorang guru di SMP Satap 02 Waesama, maka bahu membahulah mereka mengajar mereka.
Inisiatif keduanya tak berhenti sampai di situ. Mereka pun membangun mushala dan tempat pengajian. Adapun di rumah tinggalnya, disiapkannya perpustakaan.
Perpustakaan dinamai Taman Baca Dunia Akherat, sedang Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dinamainya Al-Alim. Semuanya dibangun mengandalkan tabungan pribadi.
Senin (22/5/2023) malam lalu, suami dari Fitriah ini kembali ke Maluku. Setelah melapor ke Kodam XVI/Pattimura, dia menunggu jadwal KM Tidar menuju Namlea, Kamis (25/5/2023).
Pada Jumat (26/5/2023), dia melapor ke Kodim 1506/Namlea. Barulah pada Sabtu (27/5/2023) menuju Hote menumpang bus penumpang. Empat jam perjalanan darat tentu ditempuhnya dengan hati riang.
Hari itu di Hote, puluhan anak sudah menantinya penuh rindu. Kerinduan mereka terungkapkan lewat tangisan. Serma Riadi memeluk erat anak-anak itu penuh kerinduan. Kerinduan mereka sudah bertambatan. Anak-anak ini pun sudah bertemu kembali dengan ‘Om Tentara’ kesayangan mereka.
Editor: Faieq Hidayat