Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia: Pancasila Benteng Melawan Provokasi di Era Digital
Serian juga mengkritik lemahnya pengawasan dan regulasi yang mengatur ruang digital, yang memungkinkan penyebaran konten negatif dan berpotensi memicu konflik. Pada akhirnya, sebagian besar rakyat menjadi bergantung pada teknologi sehingga melupakan nilai-nilai luhur Pancasila dan lebih fokus pada kepentingan pribadi atau kelompok.
Pimpinan Yayasan Pendidikan salah satu kampus di Jakarta ini menyarankan, perlunya langkah-langkah konkret, seperti meningkatkan literasi digital, membangun kesadaran akan pentingnya nilai-nilai Pancasila, serta mengembangkan regulasi yang efektif untuk mengatur penggunaan teknologi digital.
Serian menekankan, Pancasila sebagai ideologi negara merupakan benteng yang kuat untuk menghadapi disrupsi informasi dan provokasi digital. Sebab, Pancasila memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi landasan moral bagi masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan secara damai.
"Nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan persatuan dapat menjadi pedoman bagi masyarakat untuk menolak berita hoax dan ujaran kebencian yang dapat memicu konflik," kata Waketum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia ini.
Ketua Dewan Pakar Formas ini pun menjabarkan makna kelima sila dalam Pancasila yang relevan untuk menghadapi tantangan era digital. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan untuk menghormati dan toleran terhadap perbedaan agama dan kepercayaan. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai ini, masyarakat dapat menolak intoleransi dan membangun kerukunan antarumat beragama.