Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Siap All Out
Advertisement . Scroll to see content

Jelang Muktamar ke-35 NU, KH Zulfa Mustofa Dorong Kiai Bangkitkan Tradisi Menulis Kitab

Rabu, 08 Juli 2026 - 22:57:00 WIB
Jelang Muktamar ke-35 NU, KH Zulfa Mustofa Dorong Kiai Bangkitkan Tradisi Menulis Kitab
Wakil Ketua Umum PBNU bidang Keagamaan dan Hubungan Antarlembaga, KH Zulfa Mustofa mendorong kiai dan ulama menghidupkan kembali tradisi menulis kitab.. (Foto PBNU).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, mendorong para ulama, kiai, dan akademisi pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab

Langkah tersebut sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu sekaligus membangun peradaban Islam Nusantara yang adaptif terhadap zaman. 

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Kiai Zulfa akan meluncurkan sekaligus membedah kitab terbarunya yang berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa. Acara bertajuk "Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW" ini bakal digelar pada Jumat, 10 Juli 2026 pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. 

Momentum peluncuran ini terasa kian strategis karena digelar menjelang Muktamar ke-35 NU, di tengah perhatian publik yang tinggi terhadap arah kepemimpinan dan masa depan keilmuan Nahdlatul Ulama. 

Kiai Zulfa menegaskan, kemajuan peradaban Islam sejak masa awal hingga berkembang di Nusantara tidak hanya ditopang oleh lahirnya ulama yang alim, melainkan juga dari warisan karya keilmuan yang mereka tinggalkan. 

“Tradisi keulamaan tidak akan kokoh tanpa adanya aktivitas menulis. Kitab menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu antargenerasi, bahkan tetap hidup ratusan tahun setelah penulisnya wafat,” kata Kiai Zulfa dalam keterangan resminya, Rabu (8/7/2026).

Kiai Zulfa menuturkan, pesantren tidak boleh sekadar menjadi pusat transmisi ilmu lewat kajian kitab kuning, tetapi juga harus memproduksi karya-karya baru demi menjawab kompleksitas teknologi, perubahan sosial, hingga isu kebangsaan.

Ceramah dinilai mampu menggerakkan hati pada masanya, namun sebuah kitab dapat menjaga ilmu tetap hidup sepanjang masa melampaui ruang dan waktu.

"Memang penting dan perlu kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu. Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang. Di situlah estafet keilmuan terus berjalan," ujar Kiai Zulfa.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut