Integrasi AI di Industri TIC: Efisiensi Meningkat, SDM Terampil Jadi Tantangan
Dengan hadirnya satu perusahaan pengadopsi AI, jejaringnya terbentuk. Ini manakala perusahaan pengadosi awal, membutuhkan bahan baku dari perusahaan lain. Otomatisasi berbasis AI pengadopsi awal, ‘memaksa’ perusahaan pemasoknya menjalankan sistem serupa. Adopsi ini akan terus disusul adopsi-adopsi oleh perusahaan lainnya. Manakala jejaringnya makin luas, bidang yang dilayani AI turut meluas. Hal utama yang langsung dirasakan, meningkatnya kecepataan produksi. Inspeksi bahan baku hingga produk jadi, yang semula mengandalkan manusia mutlak, diganti oleh sistem berbasis AI. Seluruhnya ini membutuhkan transformasi di hulu, kecakapan sumber daya manusia.
Terkait tersedianya sumber daya manusia terampil AI, Organization for Economic Co-operation and Development, melalui OECD.org, 2025, menyebut terjadi kelangkaan keterampilan pada kemampuan AI tertentu. Ini nyata menghambat adopsi AI. Bahkan saat terjadi di perusahaan-perusahaan besar. Karenanya pengembangan sumber daya manusia terampil AI, menjadi hal mendasar dalam transformasi industri saat ini.
Sayangnya, saat perusahaan-perusahaan ingin memenuhi sumber daya manusia dengan keterampilan berbasis AI, dunia akademik, sebagai lembaga penyedia manusia terdidik, sering kali tak memenuhinya. Sumber daya manusia berwawasan AI, tak terjamin penyediaannya oleh lembaga ini. Karenanya, persyaratan sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan jejaring industri berbasis AI, mutlak direvisi. Harus ada kolaborasi antara industri pengguna sumber daya manusia dengan sektor penyedianya. Ini bertujuan untuk merancang pengembangan keterampilan yang sesuai maupun menyelenggarakan program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri. Seluruh uraian ini, tertuang dalam laporan berjudul "The Adoption of Artificial Intelligence in Firms: New Evidence for Policymaking".
Ketika ekosistem rantai pasok berbasis AI makin luas, dunia yang diwarnai pemanfaatannya terbentuk. Adopsi AI bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kecuali jika siap menghadapi kepunahan, lantaran tak relevan dengan ekosistem yang berkembang. Seluruhnya ini, berpengaruh pada industri hilirnya. Termasuk industri testing, inspection & certification (TIC).
TIC secara sederhana meliputi layanan yang diberikan pada produk, sistem maupun servis, untuk dipastikan memenuhi persyaratan yang berlaku. Aktivitasnya meliputi pengujian dan pemeriksaan terhadap kepatuhan standar keamanan, keselamatan maupun kelayakan. Penerapannya mulai dari bahan pangan, obat, mainan, produk fashion, suku cadang kendaraaan hingga pada sistem produksi, kelestarian lingkungan, antisuap, keamanan, serta masih banyak lainnya. Dari aktivitas pengujian maupun pemeriksaan itu, diperoleh pernyataan terhadap dipenuhinya persyaratan. Itu dinyatakan dalam bentuk sertifikat.