Indonesia Bangun Pabrik Melamin Pertama di KEK Gresik, Investasi Rp10,2 Triliun
Fasilitas ini akan mengolah gas alam menjadi amonia, yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi urea dan dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi seperti melamin dan amonium nitrat.
Bangun Pabrik di Indonesia, QJMotor Siapkan Investasi dan Kembangkan SDM Lokal
Pada tahap awal, kapasitas produksi yang direncanakan meliputi 800 ton per hari (TPD) amonia, 1.500 TPD urea, dan 200 TPD melamin.
Pengembangan proyek ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan hilirisasi industri dan penguatan KEK sebagai prioritas utama.
Dalam kerangka tersebut, KEK Gresik telah ditetapkan sebagai salah satu KEK Prioritas Nasional yang berperan strategis dalam mendorong industrialisasi, peningkatan ekspor, dan pemerataan pembangunan wilayah.
Kinerja KEK secara nasional terus menunjukkan tren positif. Hingga tahun 2025, realisasi investasi kumulatif tercatat mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249 ribu orang.
Sepanjang tahun 2025, KEK Gresik membukukan investasi sebesar Rp105,4 triliun atau sekitar 31% dari total investasi KEK nasional, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 46 ribu orang. Kinerja ini menegaskan peran KEK Gresik sebagai salah satu motor utama pengembangan KEK di Indonesia.
Dampak pengembangan kawasan juga terlihat pada perekonomian daerah. Di Jawa Timur, sektor manufaktur berkontribusi sekitar 31,32% terhadap perekonomian regional, sekaligus mendorong penurunan tingkat pengangguran di Kabupaten Gresik dari 8,00% menjadi 5,47% dalam lima tahun terakhir.
Airlangga menyampaikan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dia menekankan soal masuknya investasi baru pada proyek industri melamin ini semakin memperkuat momentum pertumbuhan KEK Gresik, sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap ekosistem industri dan iklim investasi di Indonesia.
“Pada tahun 2025, sektor manufaktur berkontribusi sebesar 19,07% terhadap PDB Indonesia dan menjadi penggerak utama pertumbuhan di berbagai kawasan industri,” ujar Airlangga.
Editor: Puti Aini Yasmin