Hilirisasi Nikel Mendesak, Indonesia Kejar Kedaulatan Energi di Tengah Gejolak BBM Global
JAKARTA, iNews.id – Ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) global dan fluktuasi harga minyak dunia menjadi momentum krusial bagi Indonesia untuk mempercepat hilirisasi nikel sebagai fondasi utama ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Di tengah tekanan energi global, Indonesia justru memiliki modal strategis berupa cadangan nikel melimpah, komoditas kunci dalam pengembangan baterai EV. Potensi ini membuka jalan besar bagi Indonesia untuk mendorong transisi menuju kedaulatan energi berbasis teknologi dan energi baru.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai lebih dari Rp431 triliun sepanjang Januari–September 2025. Dari jumlah tersebut, sektor nikel menyumbang lebih dari Rp136 triliun, menegaskan peran dominan komoditas ini dalam pengembangan ekosistem baterai nasional.
Kondisi geopolitik global yang dinamis serta volatilitas harga minyak semakin menegaskan urgensi penguatan ketahanan energi. Kini, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pasokan, tetapi juga kemampuan suatu negara dalam mengendalikan rantai nilai energi secara menyeluruh.
Penjualan Mobil Maret 2026 Terjun Bebas, Turun 24,6 Persen Dibanding Februari
Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Mordekhai Aruan mengatakan kebutuhan membangun rantai pasok EV berbasis nikel di dalam negeri sudah terasa dalam beberapa tahun terakhir.
“Urgensi pembangunan supply chain EV berbasis nikel di Indonesia sebetulnya telah terasa cukup tinggi sejak 2–3 tahun terakhir, sejalan dengan peta jalan dekarbonisasi pemerintah menuju Net Zero Emission 2060,” ujarnya, dalam keterangan pers dilansir Senin (13/4/2026).
Kirim 13.000 Unit ke Konsumen hingga April, Jaecoo J5 EV Jadi Mobil Listrik Terlaris
Dalam lima tahun terakhir, industri nikel nasional mengalami perkembangan signifikan. Produk yang dihasilkan tidak lagi terbatas pada nickel pig iron (NPI), tetapi sudah merambah ke produk bernilai tambah seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulphate, cobalt sulphate, hingga precursor cathode active material (PCAM).
Perkembangan ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik yang terus berkembang pesat. Mordekhai menyebut Indonesia kini berada dalam posisi strategis dalam ekosistem EV dunia.
Hyundai Rilis SUV Boulder Concept, Mobil Off-Road Pesaing Jeep Wrangler
“Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok EV global,” katanya.
Keunggulan tersebut didukung besarnya cadangan nikel nasional serta pengembangan teknologi pengolahan, khususnya smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL). Teknologi ini menjadi tulang punggung dalam produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Changan Akan Luncurkan 3 Mobil Baru Tahun Ini, Deepal S05 REEV Siap Mengaspal
Guru Besar Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Profesor Mohammad Zaki Mubarok, menilai peluang hilirisasi Indonesia tidak hanya terbatas pada nikel, tetapi juga mencakup mineral kritis lain seperti scandium yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk industri teknologi maju.
Di sisi industri, PT QMB New Energy Materials sebagai bagian dari konsorsium global turut memperkuat rantai pasok melalui produksi MHP berkapasitas 150.000 ton per tahun. Selain itu, perusahaan ini juga memproduksi sekitar 30.000 ton NCM sulfates dan 50.000 ton prekursor setiap tahun.
Kapasitas produksi yang terintegrasi ini menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan bahan baku domestik sekaligus meningkatkan daya saing ekspor produk bernilai tambah dari Indonesia.
“Tantangan berikutnya adalah mendorong investasi untuk menciptakan ekosistem pengolahan bijih nikel secara end-to-end dari hulu ke hilir,” kata Mordekhai.
Penguatan ekosistem industri tersebut, hilirisasi nikel tidak hanya berperan sebagai strategi ketahanan energi, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah tekanan pasar energi global.
Investasi SDM
Selain pembangunan industri, investasi pada sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penentu keberhasilan hilirisasi. Penguatan talenta lokal dinilai mampu mempercepat transformasi industri sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Perusahaan global GEM tercatat telah menginvestasikan lebih dari 40 juta dolar AS atau sekitar Rp684,8 miliar (Rp17.121 per dolar AS) untuk pengembangan talenta Indonesia melalui program beasiswa. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun modal manusia di sektor energi baru.
Saat ini, sebanyak 266 talenta Indonesia tengah dikembangkan melalui kolaborasi antara perusahaan, LPDP, dan Central South University, China. Program ini diarahkan untuk mencetak tenaga ahli yang mampu mendukung industri hilirisasi nikel dan energi baru di dalam negeri.
Penguatan SDM diyakini mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian, mulai dari peningkatan produktivitas industri, pembukaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai global kendaraan listrik.
Editor: Dani M Dahwilani