Dunia Akui Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Timur Tengah
Momentum pertumbuhan pada awal 2026 juga ditopang oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, seiring membaiknya produktivitas sektor pertanian serta dorongan musiman Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, pembangunan infrastruktur publik yang terus berlanjut dan peningkatan investasi sektor swasta, khususnya di industri hilir, turut memperkuat kinerja ekonomi.
Arus masuk penanaman modal asing yang solid juga dinilai mampu menjaga stabilitas eksternal, termasuk nilai tukar rupiah.
Pengakuan internasional juga datang dari pasar keuangan. Lembaga indeks global FTSE Russell pada 7 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Indonesia bahkan tidak masuk dalam daftar pemantauan (watch list) untuk penurunan status.
FTSE Russell mencatat sejumlah kemajuan penting, seperti peningkatan transparansi kepemilikan saham, perluasan klasifikasi investor hingga 39 kategori, penetapan batas minimum free float sebesar 15 persen, hingga penerapan mekanisme peringatan dini melalui High Shareholding Concentration.
Dengan status yang kini sejajar dengan negara besar seperti Tiongkok dan India dalam klasifikasi FTSE, pasar modal Indonesia dinilai semakin mendekati standar tata kelola global.
"Kedua pengakuan internasional tersebut sebagai validasi atas arah kebijakan makroekonomi yang ditempuh secara konsisten yakni dengan memelihara permintaan domestik, memperkuat fondasi fiskal, menjaga kredibilitas moneter, dan melanjutkan reformasi struktural pasar keuangan," kata Haryo Limanseto, dikutip Rabu (15/4/2026).
Editor: Reza Fajri