Kendati demikian, ADB mengingatkan sejumlah risiko yang mengintai. Stabilitas ekonomi nasional dapat dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global yang belum mereda serta fluktuasi harga komoditas energi.
Ekonomi RI Membaik, Penerimaan Pajak Naik 20,7 Persen di Kuartal I 2026
Selian itu, ADB menyoroti kebijakan moneter negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS), yang ketat dalam jangka waktu lebih lama. Hal itu dinilai berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Atas dasar itu, ADB menyarankan pemerintah mempercepat reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional. Penerimaan negara yang optimal serta efisiensi belanja dianggap krusial menjaga ruang fiskal menghadapi guncangan ekonomi di masa depan.
"Pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih kuat di sektor manufaktur sangat penting untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif. Sementara sektor pertanian masih menyerap porsi besar tenaga kerja, sektor ini tetap ditandai oleh produktivitas yang rendah dan tingkat informalitas yang tinggi," jelas ADB.
Editor: Rizky Agustian