BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Selama 7 Hari di Riau untuk Cegah Karhutla
Dwikorita menerangkan, wilayah target OMC difokuskan pada pesisir timur bagian utara dan selatan Riau, yang merupakan area dengan sejarah kebakaran tinggi. Tujuannya adalah mengisi kembali kubah air dalam tanah gambut agar tidak mudah mengering dan terbakar saat musim kemarau berlangsung.
Berdasarkan sistem early warning BMKG, musim kemarau di Indonesia, termasuk Riau, telah dimulai sejak April dan diprediksi mencapai puncaknya antara Juni hingga Agustus 2025. Provinsi Riau mengalami dua kali musim kemarau dalam setahun, yakni Februari–Maret dan Mei–September, sehingga berisiko menghadapi Karhutla dengan frekuensi lebih tinggi dibanding wilayah lain.
“Potensi kekeringan dan Karhutla pada Mei hingga September 2025 diperkirakan meningkat akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan wilayah barat Indonesia. Karena itu, diperlukan intervensi melalui OMC untuk menjaga kelembapan gambut dan mencegah kebakaran sebelum musim kemarau mencapai puncaknya,” ucap Dwikorita.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto mengatakan, sejak 2015, paradigma OMC telah berubah dari sekadar respons pemadaman menjadi langkah mitigasi dan pencegahan dini. Strategi ini terbukti efektif. Data menunjukkan, jumlah hotspot nasional menurun tajam dari 8.168 titik pada 2019 menjadi hanya 499 titik pada 2023, turun sebesar 93,9 persen. Begitu pula dengan luas lahan terbakar yang turun dari 90.550 hektare menjadi 7.267 hektare dalam periode yang sama.
“Dengan kondisi cuaca yang masih relatif mendukung pembentukan awan hujan, OMC diharapkan mampu menekan jumlah hotspot dan mengurangi risiko kebakaran gambut yang biasa terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kemarau,” ucap Seto.