Algoritma Konflik, Strategi dan Rekonstruksi Narasi Iran dalam Perang Melawan Amerika
Sejak video itu muncul, meski belum didukung bukti yang menunjukkan Iran menembak jatuh jet F/A-18 Amerika, jutaan orang telah mengonsumsi narasi tersebut, baik yang disebarkan secara sadar maupun tidak. "Pada saat bantahan resmi muncul," tulis perusahaan pemantau Alethea dalam sebuah analisis, "audiens di berbagai negara telah memproses cerita tersebut sebagai sesuatu yang telah dikonfirmasi," tulis the New York Times.
Iran tampak sangat memahami bagaimana persepsi publik terbentuk dalam memaknai perang melawan AS-Israel saat ini. Mereka membangun konstruksi narasi yang rapi, terukur, dan selaras dengan psikologi publik. Apalagi selama Maret, Iran diklaim berhasil menembak jatuh F-15E Strike Eagle dan A-10 Warthog.
Dalam perang modern, tak hanya bicara mesin perang. Di era digital, narasi dan persepsi menjadi elemen kunci untuk memenangkan perang. Satu alinea kata-kata atau video pendek 30 detik dapat menghasilkan resonansi yang menggema ke mana-mana dalam waktu singkat.
Framing: Konstruksi Realitas
Strategi Iran dalam menyebarkan narasi perang saat ini bisa dipahami melalui apa yang disebut Erving Goffman (1974) sebagai framing. Ia menjelaskan, individu mengorganisasi pengalaman dan memaknai realitas melalui "bingkai" (frame) kognitif. Framing bukan sekadar menyajikan informasi, melainkan bagaimana isu dikemas melalui pilihan kata, gambar, dan sudut pandang untuk menonjolkan aspek tertentu sekaligus mengabaikan yang lain.
Bayi yang diberi nama Ali Khamenei dan truk bergambar Khamenei di bagian belakangnya, dikemas sebagai narasi yang memiliki makna dan efek mendalam. Bagi Indonesia sebagai negera dengan populasi muslim terbesar di dunia, dua fakta tersebut sangat strategis untuk membuka ruang empati di tengah konflik.