Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tutup Selat Hormuz, Iran: AS Rakus Minyak!
Advertisement . Scroll to see content

Airlangga Ungkap Rencana RI Impor Minyak dari AS dan Venezuela

Kamis, 05 Maret 2026 - 15:58:00 WIB
Airlangga Ungkap Rencana RI Impor Minyak dari AS dan Venezuela
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Tangkapan Layar)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah bergerak cepat melakukan mitigasi dampak perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang mengancam stabilitas energi global.

Airlangga menuturkan, Indonesia telah mengamankan sumber minyak dan gas (migas) alternatif di luar kawasan Timur Tengah untuk menjamin ketahanan domestik. Langkah ini mencakup pemanfaatan kerja sama perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat (AS) melalui Agreement of Reciprocal Trade (ART) serta optimalisasi aset strategis yang dimiliki Pertamina di Venezuela.

"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela," ucap Airlangga dalam acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026, Kamis (5/3/2026).

Berdasarkan dokumen kesepakatan dagang resiprokal RI-AS, Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan pembelian komoditas energi dengan total nilai mencapai 15 miliar dolar AS. 

Rincian alokasi impor tersebut meliputi liquefied petroleum gas (LPG) sebesar 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah 4,5 miliar dolar AS, dan bensin hasil kilang 7 miliar dolar AS.

Diversifikasi sumber pasokan ini diharapkan dapat meredam risiko gangguan distribusi jika konflik di wilayah Timur Tengah memburuk.

Airlangga menekankan, pemerintah telah belajar dari krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina untuk menghadapi ketidakpastian saat ini. Meski kenaikan harga komoditas global berpotensi menambah penerimaan negara, fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat melalui subsidi.

"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik," tuturnya.

Di tengah situasi yang masih sulit diprediksi atau too early to call, Airlangga mengingatkan bahwa daya tahan ekonomi (resiliensi) menjadi kunci utama bagi kepercayaan investor. Ketidakpastian global cenderung membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

“Inilah yang harus kita dorong karena the new war juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi,” ucap Airlangga.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut