Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pemerintah bakal Bebaskan PPh Bunga DHE SDA untuk Perkuat Nilai Tukar Rupiah
Advertisement . Scroll to see content

Airlangga Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Sekarang dan Era Krisis 98, Apa Itu?

Senin, 25 Mei 2026 - 11:51:00 WIB
Airlangga Ungkap Perbedaan Pelemahan Rupiah Sekarang dan Era Krisis 98, Apa Itu?
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan perbedaan pelemahan rupiah sekarang dengan era krisis 98. (Foto: iNews.id/Anggie)
Advertisement . Scroll to see content

“Sedangkan di periode 2014-2024 itu rupiah depresiasinya 30,6 persen dan inflasinya 3 persen. Jadi beda nih kualitas dalam dua dekade terakhir dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 dan depresiasi rupiah 5 persen. Jadi konteksnya saya sepakat sama Pak Misbakun harus dilihat secara konteks,” sambungnya. 

Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun turut memberikan catatan krusial untuk meluruskan kesalahpahaman di masyarakat. Publik diimbau tidak menyamakan posisi Rupiah yang saat ini bertengger di kisaran Rp17.600 per Dolar AS dengan memori kelam krisis finansial Asia tahun 1998 silam.

Misbakhun memaparkan runtutan fakta matematis di balik volatilitas kurs guna meredam kecemasan psikologis di akar rumput yang seolah-olah mengisyaratkan Indonesia sedang dihantui krisis besar

“Rupiah kita benar berada di level Rp17.600 dan orang selalu membandingkan dengan krisis 98. Rupiah memang 98 itu pernah mencapai melewati Rp17.000, 800 bahkan mendekat Rp19.000. Tetapi rupiah saat itu berada di level tersebut berangkat dari angka Rp2.000-an,” ungkap Misbakhun. 

Menurut dia, lonjakan kurs pada tahun 1998 merosot hingga ratusan persen secara seketika akibat runtuhnya sistem keuangan. Kondisi tersebut sangat kontras dengan pergerakan nilai tukar saat ini yang bergeser secara perlahan dan tetap berada dalam pemantauan ketat otoritas bank sentral.

"Dulu Rp2.500, Rp2.400 ke Rp17.000 itu kan ratusan persen. Nah ini yang harus dipahamkan oleh kita semua kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat memahami oh rupiah ini, rupiah ini dan kemudian psikologis mereka seakan-akan ada krisis yang menghantui kita,” pungkas Misbakhun.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut