Abdul Mu’ti Tekankan 3 Pesan Penting untuk Para Profesor
“Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu, tidak lagi ditentukan oleh hukum, tetapi ditentukan oleh popularitas dan viralitas. Yang paling banyak mendukung itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal yang viral di media sosial itu sering kali bukan aspirasi sesungguhnya, melainkan aspirasi yang digerakkan oleh robot,” ucap Mu’ti.
Mu’ti juga menyinggung buku Werner Herzog, pembuat film legendaris Jerman, dalam buku nonfiksinya The Future of Truth yang terbit akhir tahun 2025. Buku itu menguraikan panjang lebar mengenai dunia yang semakin tidak menentu.
Di era digital ini makin sulit membedakan mana fakta dan mana rekayasa, mana fakta dan fabrikasi. Mu’ti menyebutnya sebagai kesulitan membedakan mana yang hak dan mana yang hoaks, mana yang benar dan mana yang salah.
Di bab terakhir dari 11 bab berjudul The Future of Hope, penutup tulisannya hanya berisi dua kalimat, yaitu: “Kebenaran itu tidak punya masa depan, tetapi kebenaran juga tidak punya masa lalu. Namun kita tidak akan, tidak boleh, dan tidak bisa menyerah untuk terus mencari dan menemukannya.”
“Saya cari sampai halaman terakhir The Future of Truth itu, ternyata penutupnya hanya dua kalimat. Di kalimat terakhir bab sebelas itu dia menulis: truth has no future but truth has no past either, but we will not, must not, cannot give up the search for it,” papar Mu’ti.