5 Khotbah Natal Singkat yang Menarik untuk Renungan tentang Pengharapan
Setelah kita berdamai dengan Tuhan dan diri sendiri, berdamailah dengan sesama manusia lainnya. Tanpa kepahitan ataupun sakit hati.
Tutuplah tahun 2018 ini dengan damai sejahtera dari Kerajaan Allah. Milikilah kelegaan hati supaya Raja Damai itu terus bertakhta di dalam hati dan hidup kita. Orang yang menyadari bahwa Allahnya adalah Raja Damai, maka akan ada kedamaian sejati dalam hidupnya.
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yes. 9:6). Damai di dunia ini dapat dibuat oleh siapa saja, tetapi damai dari dunia adalah damai yang penuh kepalsuan. Hanya Yesus Kristuslah sang pemilik damai yang sejati, sebab Dia lahir sebagai seorang Raja Damai. Mengapa Yesus disebut sebagai Raja Damai? Sebab Ia lahir sebagai manusia dan Tuhan bagi setiap umat manusia. Kata damai dalam bahasa Ibrani adalah shalom, sedangkan dalam bahasa Yunani disebut eirene yang artinya kesejahteraan penuh lengkap.
Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia ini bukan tanpa memiliki suatu tujuan, melainkan Tuhan Yesus memiliki tiga tujuan mengapa Ia lahir ke dunia ini, yaitu supaya kita:
1. Berdamai dengan Bapa
"Kata Yesus kepadanya: 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku'" (Yoh. 14:6). Karena semua umat manusia sudah terputus hubungannya dengan Bapa dan dipenuhi oleh dosa, maka Tuhan Yesus lahir sebagai seorang pendamai bagi hubungan manusia dengan Bapa. "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya" (Rm. 3:25).